Senin, 07 Mei 2012

Membahagiakan Ayah dan Bunda


Setinggi sang bintang yang ada di langit sana
Takkan setinggi asa di dalam hatiku
Duhai Ayah dan Bunda yang terkasih…
Tahukah kau…
Amat ingin hatiku melukis dan mengukirkan kebahagiaan di dalam hidupmu

Meski telah kutemukan diri ini tak sesempurna dulu lagi
Meski mata tiada lagi sanggup menikmati elok parasmu
Namun semua itu takkan mampu memadamkan kobaran api cita di dalam dadaku

Walau ku tak mampu lagi tuk menjadi seorang dokter harapan Ayah dan Bunda
Tapi ku mampu tuk mengobati segala duka di dalam hatimu
Dan ku akan ganti duka itu menjadi sebuah suka dan kebahagiaan yang akan sangat berarti dalam setiap lembar hidupmu
Jangan sedih ataupun risau

Ayah.. Bunda…
Hapuslah air mata kesedihanmu
Dan dengarkanlah janjiku bahwa..
Ku akan ganti semua air mata kesedihan dengan sebuah air mata haru
Dan kan mengukir senyum di bibirmu

Lihatlah Ayah… Bunda…
Keterbatasanku ini bukanlah penghalang tuk gapai impian dan citaku
Hari demi hari
Waktu demi waktu
Kan kulalui semua itu
Walau peluh membasahi tubuh
Kan ku habiskan seluruh masa hidupku hanya tuk membahagiakan dirimu

Created by:
Risya Rizky Nurul Qur’ani

Bagaimana Menjadi Seorang Ikhwan dan Akhwat sejati?


            :Eh Romi! Hai Bro! Wah asyik banget nih ngerokoknya?!” sapa Alexa seraya mencubit lengan Romi dan duduk tepat di samping Romi. “Iya nih, mau coba lo? Asyik loh, keren loh kalo cewek tuh ngerokok kayak cewek-cewek di barat gitu loh!” rayu Romi seraya menyodorkan sebatang rokok pada Alexa. “Ee… Boleh nih? Yah… Kebetulan gue lagi frustasi nih, secara gitu! Gue baru aja diputusin ma pacar gue, katanya dia dah gak level ma gue, padahal gue kan cantik, apa lagi yang kurang dari gue coba?!” kata Alexa sambil memainkan batang rokok yang ada di tangannya. :Sebenarnya gue tau kok kenapa pacar lo putusin lo, melihat penampilan lo itu… hm.. kurang seksi! Lihat aja tuh rok kamu, naikkan dikit dong hingga di atas lutut kamu! Trus bajunya, baju lo tuh gombrang banget kayak ibu-ibu aja! Ketatin dong! Supaya kelebihan dalam tubuhmu itu Nampak indah dan seksi.
            Nah itulah tadi Sekilas kehidupan remaja saat ini, mereka selalu menjadi korban gaya hidup barat yang bisa mengikis akhlak mereka perlahan-lahan namun pasti. Tak ada lagi jarak antara pemuda dan pemudi, hal itu telah dianggap wajar bagi sebagian mereka. Tubuh mereka yang harus mereka tutupi malahan mereka pertunjukkan dengan terbuka tanpa merasa malu ataupun risih. Last but not list, itulah yang terjadi dalam remaja kita saat ini, dalam mencari jati diri, mereka selalu ingin mencoba-coba dan melakukan hal-hal yang baru dan menantang bagi mereka tanpa memikirkan resiko yang bisa menghancurkan masa depan mereka sendiri. Selalu ingin dipuji dan memuji, itulah karakter remaja putra dan putrid, remaja putra selalu memuji kelebihan yang dimiliki seorang cewek sedangkan remaja putrid sangat senang ketika dipuji oleh lawan jenisnya, mungkin hal itu jadi kesenangan tersendiri bagi mereka.

            Tahukah kamu? Sebenarnya dalam islam sangatlah berbeda antara cowok-cewek dan ikhwan-akhwat.Mungkin kalian berkata dan bertanya-tanya”Kok bisa? Kirain sama! Cuma bedanya hanya factor bahasa, ikhwan-akhwat berasal dari bahasa arab!:

            Nah, kita bahas bersama ya…
Bagi yang menganggap itu sama, maaf… itu adalah salah besar! Perbedaannya sangat jauh, perbedaan antara cowok-cewek dan ikhwan-akhwat terletak pada gaya hidup dan etika. Cowok dan cewek berjalan di atas muka bumi dengan gaya parlente, sibuk mengurusi penampilan, dan selau mengikuti hawa nafsunya, sedangkan ikhwan dan akhwat berjalan di atas muka bumi dengan aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.
            Pakaian yang tertutup dan sopan, santun, lembut, tegas, dan memiliki pendirian dan prinsip yang kuat sesuai ajaran al-qur’an dan sunnah adalah gambaran dan cerminan akhlak seorang ikhwan ataupun akhwat. Namun sayangnya, untuk mendapatkan ikhwan dan akhwat yang sejati di Indonesia sangatlah minim, mungkin perbandingannya  antara 1 dan 10, jauh banget ya…
Di berita baik dalam media cetak dan media elektronik, sangat sering kita jumpai permasalahan pergaulan bebas seperti masalah seks, narkoba, judi dsb, bagaimana tidak?! Pakaian yang minim masih saja dipakai kemana-mana, mengomsumsi narkoba hingga over dosis, mabuk-mabukan hingga akhirnys terjadinya perkelahian sesama ataupun antar kelompok yang berujung kematian. Coba kita piker, siapa yang mengundang ataupun mencari—cari masalah dan bencana?! Kita sendirilah yang membuat diri kita tertimpa celaka. Seperti pepatah yang mengatakan, ‘Lebih mencegah daripada mengobati’. Siapa yang tidak mengetahui makna pepatah tersebut, mungkin anak usia sekolah dasar pun mengetahui maknanya.
            Maka dari itu, untuk menjadi seorang ikhwan dan akhwat sejati yang kaffah, kita harus senantiasa beretika sesuai ajaran al-qur’an dan sunnah. Sulit sih… tapi tak ada salahnya untuk kita mencobanya, tak ada yang sulit kalau ada kemauan untuk berubah.

Takkan berubah suatu kaum jika bukan dirinyalah  sendiri yang mengubahnya

Selain itu, tentulah kita sebagai ikhwan dan sejati ingin meraih kesuksesan, bukan hanya kesuksesan di dunia tetapi juga kesuksesan di akhirat. Untuk meraihnya, pastilah kita harus bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu dan mengerjakan kebaikan di mana pun dan kapan pun. Man jaddah wa jaddah artinya barang siapa yang bersungguh-sungguh niscaya dialah yang a kan mendapatkannya.
Jadi… keputusan dan keberhasilan ada di tanganmu, dan tentunya dengan usaha dan doa yang akhirnya Allah yang menentukannya, kalaupun kamu gagal, janganlah putus asa karena itu hanyalah sebuah ujian untukmu menjadi lebih baik, kegagalan adalah cambuk untuk mendapatkan kesuksesan. Selain itu, Allah telah menyediakan 2 jalan bagi manusia, jalan kiri menuju ke neraka dan kanan untuk menuju surge, so… silahkan memilih dan menentukan nasib dan jalanmu sendiri…

Penulis:
Risya Rizky Nurul Qur’ani

Minggu, 06 Mei 2012

Keajaiban itu datang menghampiriku


          Perkenalkan namaku Risya, aku adalah seorang putrid dari pasangan suami istri yang bernama M. Syair dan Risma Ria. Sekarang ini, aku ingin berbagi pengalaman kepada kalian. . .
Saat aku masih duduk di bangku SMP  tepatnya di salah satu
Pesantren, aku memiliki beberapa taman dan kakak senior yang bersikap kurang baik  terhadapku. Entah apa salah dan dosaku terhadap mereka, yah. . . mungkin karena aku sangat dekat dengan guru-guruku di sekolah, selain itu mungkin karena aku juga disenangi oleh sebagian kakak-kakak senior di asrama. Awalnya sih, mereka baik terhadapku, malahan mereka mengajakku masuk ke dalam geng mereka. Namun aku molaknya dengan alas an aku ingin berteman dengan semua orang dan  aku nggak suka pilih-pilih teman. Selain itu, di pesantren aku terkenal rajin beribadah, sholat dhuha, tahajjuddan puasa senin kamis tak pernah bolong, aku juga sering mewakili sekolah dalm lomba-lomba antar sekolah. Mungkin karena itulah mereka iri terhadapku mereka juga sering memgejekku sok cantik, sok alim, sok pintar,dsb. Kalau ada tugas atau ulangan, mereka  mendekatiku tapi di luar itu mereka sering menjahatiku, bahkan salah satu temanku pernah membuang buku cetakku di tempat sampah belakang sekolah. Ditambah lagi aku punya sahabat yang sering menusukku dari belakang, di depanku sangat manis tapi di belakangku dia menjelek-jelekkanku. aAkhirnya, aku sudah tak tahan lagi dan ingin pindah dari pesanten itu. Apalagi seniorku sering main tangan, satu yang berbuat semua kena imbasnya. Sempurnalah penderitaanku.
          Seiring waktu, aku merasa ada yang aneh dalam diriku, aku sering sakit-sakitan, kepalaku sering terasa sakit, mataku terasa kabur dan aku sering merasa lemas dan ngantuk yang berlebihan. Akhirnya, aku berkonsultasi kepada Pembina dan dokter yang ada di pesantrenku. Mereka hanya memberiku obat sakit kepala dan dokter juga menyaranku untuk memeriksa mataku karena dia hanya mengira mataku membutuhkan kacamata . Aku pun memberitahukan hal itu kepada ayahku dan aku juga berkata kepadanya bahwa aku ingin pindah sekolah.  Namun ayahku tidak mempercayaiku dan dia hanya mengira aku berpura-pura sakit agar bisa pindah dari pesantren itu. Aku pun hanya bisa bersabar, dan hal itu terulang kembali tapi bedanya hal itu terjadi di sekolahku, aku jarang lagi mengerjakan tugas sebagai seksi madding di sekolah dan seniorku barkata bahwa aku hanya berpura-pura sakit dan mengiraku malas hingga akhirnya aku dikeluarkan dari seksi madding dan memindahkanku ke seksi yang lebih berat lagi yaitu seksi ibadah. Sekali lagi, aku hanya bisa berusaha sabar dan menguatkan hati, aku hanya bisa curhat kepada Allah dalm setiap tahajjudku karena hanya dia yang mengerti perasaanku.
          Pada saat seminggu sebelum lebaran idul adha, aku demam tapi semalam sebelum lebaran idul adha tiba aku merasa lebih baikan sehingga esok paginya aku berniat untuk mandi dan bersiap-siap ke mesjid. Tiba-tiba. . . tubuhku terasa menggigil yang luar biasa tapi aku tetap memaksakan diri untuk pergi ke mesjid, akhirnya tubuhku membungkuk menahan dingin dan gemetaran ketika aku sholat. Seminggu kemudian, aku kembali masuk sekolah, tapi dua hari kemudian aku sakit kembali dan akupun pulang kembali ke rumahku, dan ternyata hari itu adalah hari terakhir aku di bersekolah di pesantren itu. Hampir setiap hari kepalaku merasa sakit dan aku hanya mengkonsumsi obat sakit kepala seperti di pesantren hingga hal itu menyebabkan lambungku sakit dan sering merasa mual dan muntah. Lama kelamaan, keadaanku makin memburuk tiap harinya, penglihatanku menjadi dua sehingga aku sering menutup salah satu mataku dalam mengerjakan segalanya. Ayahku pun membawaku ke dokter mata dan dokter mengatakan bahwa mataku baik-baik saja akan tetapi dia menyarankanku ke dokter bagian saraf juga menyarankan untuk melakukan scan kepala dan rongseng. Setelah melakukan segala saran dokter, hasil foto scan dan rongseng itu diberikan kepada dokter. Ternyata. . . alangkah terkejutnya aku dan ayahku mendengar perkataan dokter yang mengatakan bahwa aku positif mengidap tumor otak, “Ya Allah. . .!!” pekikku dalam hati.
          Setibannya di rumah, ayahku menyampaikan hal itu kepada ibuku tetapi ibuku tetap berusaha tenang dan menguatkan hatinya. Hari demi hari aku habiskan hanya dengan menjalani pengobatan medis dan herbal, salah satnya aku mengikuti bekam dan Alhamdulillah penglihatanku yang tadinya dua menjadi normal kembali meski penglihatanku masih agak kabur. Akan tetapi, kondisi tubuhku makin hari makin tak karuan, bahkan saat aku dibonceng oleh ayahku untuk cek up ke rumahsakit, aku pingsan di atas motor sehingga tubuhku terseret-seret di jalan dan ayahku tak menyadari hal itu, ayahku baru sadar ketika seorang ibu-ibu memberitahukan kepada ayahku bahwa aku dalam keadaan tak sadar. Ayah dan ibu tadi bersama-sama membawaku pulang ke rumah dan di rumah aku terkejut mendapatkan diriku sudah ada di rumah dan ibuku menceritakan hal yang menimpaku tadi. Tak lama setelah kejadian itu, aku dilarikan ke rumah sakit karena kondisiku yang sangat memperhatinkan, dan dokter-dokter di rumahsakit menyarankan kepada orang tuaku agar dilakukan operasi yang mungkin membutuhkan waktu tiga sampai empat jam dengan resiko yang besar antara lain penglihatanku bisa hilang, aku bisa lumpuh, dan aku bisa mengalami pendarahan. Orangtuaku pun meminta saran kepada sanak keluargaku dan mereka mengatakan tuk mengeluarkanku dari rumahsakit dan mencoba berobat dengan jalan alternative dengan alas an ada salah satu keluargaku bisa sembuh setelah malakukan pengobatan alternative. Akhirnya, aku pun pulang kembali ke rumah tanpa membawa tangan kosong.
          Namun sayangnya setelah menjalani pengobatan alternative itu, kondisiku makin buruk sebelumnya.  Hingga akhirnya tepat pada tanggal 25 juni 2007 yang dimana hari itu adalah hari ulang tahunku yang genap berusia 14 tahun tiba, keluargaku mengadakan syukuran sore itu dan aku mengundang sahabat-sahabatku agar dating ke rumahku. Hari pun menjelang maghrib, tiba-tiba kepalaku terasa ingin meledak, rasa sakit yang saat itu melebihi sakit sebelumnya, aku tak bisa lagi mengkontrol diriku, aku mengerang—ngerang kesakitan dan tanganku reflex menarik-narik rambutkau sendiri dan menendang-lemari besar di dekatku hingga lemari besar itu bergetar. :Gelap! Gelap! Kenapa jadi gelap?!” tanyaku kepada semua keluargaku tetapi semuanya hanya menangis menyaksikan kondisiku bahkan salah satu tanteku mengira aku sudah hamper mati karena penglihatanku tiba-tiba gelap, ayah dan ibuku menenangkanku hingga akhirnya aku tertidur. Hingga esoknya, aku terbangun dan melihat plafon rumah yang berwarna putih akan tetapi ketika aku bangkit untuk duduk, penglihatanku kembali gelap. Aku pun sadar bahwa aku telah kehilangkan penglihatanku. Aku merasa sedih tetapi aku ikhlas menerima keadaanku bahkan aku tak mengeluarkan setetes pun air mata, aku berusaha bersabar, tegar dan menguatkan hatiku. Ibuku yang mendapatiku telah terbangun menanyakan kabarku, aku hanya tersenyum dan menyembunyikan kesedihanku tetapi perasaan seorang ibu tak bisa dibohongi. Ia tau bahwa aku lagi bersedih. “Kenapa, Nak?” tanyanya  dengan nada yang lembut, aku hanya mengatakan kepada ibuku bahwa aku tak bisa melihat lagi, ia pun memelukku dan berkata “Sabar ya, Nak. Anakku pasti kuat!” dan aku yakin di balik mataku yang gelap ibuku tengah mengeluarkan air mata tanpa membertahu hal itu kepadaku.
          Waktu demi waktu kulalui tanpa penglihatan, sekali lagi keadaanku makin terpuruk. Tumor itu bukan lagi menyerang saraf mataku tetapi telah menyerang saraf motorikku yang membuat tubuhku lumpuh total. Awalnya hanya kakiku yang tak bisa jalan, kemudian itu aku tak bisa duduk, bila tubuhku ingin di dudukkan. . . tubuhku reflex jatuh dan terasa sakit, dan makin parah lagi tubuhku tak bisa dibalik baik ke kiri maupun ke kanan dan tubuhku makin kaku. Ketika ibuku menyuapku, ia melihat pipiku tembeb seperti orang yang lagi sakit gigi, ternyata makanan yang ia suap kepadaku tiga hari yang lalu tinggal berkumpul di pipiku, ternyata semua sebagian fungsi tubuhku sudah tak berfunsi, sehingga semua aktifitasku dilakukan di atas tempat tidur, bahkan buang air saja di luar kesadaranku, telinga dan mulutku pun terganggu, kata-kata hanya erangan sakit yang selalu terlontar dari mulutku. Duniaku menjadi terbalik, pagi menjadi malam dan malam menjadi pagi, pagi aku tertidur pulas sedangkan malamnya aku tidak bisa tidur dan penyakitku itu dating biasanya saat malam telah tiba, kasihan ayah dan ibuku yang merawatku harus mengganggu malam istirahatnya, apa boleh buat karena semua itu bukan kehendak kita semua.
          Tepat padda pertengahan bulan September 2007, melihat diriku yang tak kunjung membaik, spontan aku berkata :Ibu. . . Ayah. . masukkan aku ke rumahsakit, aku bersedia dioperasi”, pintaku kepada ibu dan ayahku. Mereka pun membawaku ke rumahsakit, di rumahsakit kedua orangtuaku disalahkan oleh dokter-dokter di rumahsakit tersebut, salah satu dokter dari mereka berkata “Kenapa baru sekarang kalian membawa anak kalian?! Dari dulu kami sampaikan bahwa anak kalian harus dioperasi! Ini sangat beeresiko dan kami tak bisa menjamin nyawa anak kalian, sekarang cepat berpikir dan ambil keputusan” dan salah satu dokter yang lain berkata :Sekarang anak ibu ibarat lilin, ia hidup tapi hidupnya tak berkualitas, dan lama kelamaan lilin itu akan redup” tuturnya bijaksama kepada ibuku, ibuku pun terhentak mendengar perkataan sang dokter. Tampa berpikir panjang lagi, mereka menandatangani penyetujuan tindak operasi.
          Para dokter menyampaikan kepada orangtuaku bahwa tumorku itu sudah menguasai seluruh otak kiriku dan tumor itu menuju ke otak kanan, berarti tumor itu akan melewati batang otak dan jika tumor itu telah berada di batang otak, aku akan meninggal, dan operasi kali ini adalah operasi besar dan memakan waktu sekitar 5 jam dan sangat beresiko. Kedua orangtuaku telah pasrah dan ikhlas atas apa pun yang terjadi, seluruh keluarga, sahabat-sahbat, dan hamper seluruh warga di kompleksku mendoakanku dengan khusu’ bahkan ada yang mengeluarkan air mata ketika mendoakanku.
          Keajaiban pun dating sat per satu, ketika aku dioperasi suasana yang terjadi adalah suasana yang sangat tenang, kantong darah yang disiapkan empat kantong, yang terpakai hanya dua kantong dan operasi berjalan dengan lancer dan sukses bahkan aku dioperasi hanya memakan waktu 4 jam, subhanallah. . . Selain itum aku hanya membutuhkan waktu 24 jam sehingga esoknya aku sudah siuman. Tapi lucunya, ketika aku siuman aku berteriak ingin pulang dan mencari orangtuaku sehingga dokter pun menegurku dan melarangku rebut, tanganku juga diikat karena aku salalu ingin menggaruk-garuk kepalaku padahal di kepalaku banyak perbannya. Tak lama kemudian, aku dipindahkan ke kamar perawatan dan di saat keluargaku lagi lengah, tiba-tiba aku bisa duduk membuat mereka terkejut melihatku bisa duduk kembali. Keajaiban dating lagi, luka bekas jahitanku sangat cepat kering, bahkan aku bisa berdiri kembali meski harus dipegang, maklum karena kakiku mengecil lama tak digunakan berbulan-bulan dan akhirnya aku pun diperbolehkan pulang setelah dirawat seminggu sesudah operasi. Sebelum pulang, dokter memerintahkan untuk  kembali melakukan foto scan untuk melihat dan mengetahui keadaan otakku. Ternyata masih ada sisa-sisa tumor itu dan dokter tidak bisa membersihkannya dengan tuntas karena sangat sulit membedakan antara sel otak dan sel tumor, kalau dibersihkan semua bisa-bisa terjadi kesalahan yang fatal.
          Mengetahui hal tersebut, kedua orangtuaku makin memanjangkan doa dan tahajjudnya karena mereka takut kalau sisa-sisa tumor itu kembali seperti yang dulu. Beberapa minggu kemudian, dokter kembali memerintahkan untuk mengadakan foto scan ulang, dan hasilnya sungguh luar biasa! Otakku bersih total dari sisa sel-sel tumor. Sekali lagi, keajaiban itu dating menghampiriku. Meski aku belum bisa melihat kembali, aku sangat bersyukur karena Allah masih memberikanku kesempatan untuk hidup karena dokter pernah berkata jarang penderita tumor otak bisa bertahan hidup lama. Namun bagiku tak ada yang mustahil jika Allah berkehendak.

Bagaimana Menjadi Warga Indonesia Yang Baik


Indonesia adalah salah satu Negara yang berdemokrasi yang memiliki beberapa pulau yang banyak dibanding Negara-negara yang lain. Selain itu, Indonesia juga terkenal dengan kekayaan alamnya yang melimpah. Oleh karena itu, pada masa penjajahan Indonesia termasuk salah satu Negara sasaran yang diincar-incar oleh kaum penjajah, ditambah lagi sumber daya manusia yang dimiliki oleh bangsa Indonesia saat itu sangat rendah. Akhirnya, kaum penjajah berhasil memjajah Indonesia dan merampas hak-hak yang dimiliki oleh bangsa Indonesia secara membabibuta, bahkan hampir seluruh pulau–pulau yang ada di Indonesia berhasil dikuasai oleh kaum penjajah. Hingga akhirnya, bangsa Indonesia geram atas tindak-tanduk yang diperbuat oleh kaum penjajah. Olehnya itu, bangsa Indonesia bertekad dan berusaha untuk bersatu mengusir dan menghapuskan penjajahan di atas muka bumi Indonesia serta bertekad dan berusaha untuk memerdekakan Republik Indonesia. Dan akhirnya, seluruh pengorbanan yang dilakukan oleh bangsa Indonesia baik itu berupa materi maupun nyawa tidak si-sia, bangsa Indonesia berhasil mencapai kemerdekaan Negara Indonesia.
Kini, Indonesia telah merdeka. Namun sayangnya tidak untuk bangsa Indonesia, mengapa? Karena masih banyak kita jumpai kemiskinan yang merajalela, masalah-masalah keasusilaan, pemimpin-pemimpin yang munafik, dan masih banyak lagi yang tidak bisa diungkapkan. Padahal kita harusnya bersyukur atas kemerdekaan Indonesia dan berterima kasih kepada Allah dan pahlawan-pahlawan yang telah banyak berjasa kepada bangsa Indonesia dengan jalan tetap mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Bagaimana kita bisa mempertahankan kemerdekaan Indonesia? Sedangkan kini sangat banyak kita jumpai bentrok-bentrok dan pelakunya itu bukanlah orang asing melainkan sesama bangsa Indonesia dan hal itu sangatlah memalukan. Dengan kata lain, kita masih terjajah di Negara sendiri. Apakah kita tidak malu dan tidak merasa bersalah terhadap peahlawan-pahlawan yang telah berjasa terhadap kita semua? Jangankan malu dan merasa bersalah, pada diri kita sendiri saja kita tak merasa malu dan tidak merasa bersalah sedikitpun dan salah satu penyebabnya adalah menyelepehkan aturan-aturan yang telah ditetapkan.
Keadilan di Indonesia saat ini telah menjadi harga mati, yang salah dibenarkan dan yang benar disalahkan, bagaimana kebenaran itu terungkap sedangkan saat ini kebenaran selalu dibungkam. Saat ini di Indonesia, segalanya bisa dibeli dengan uang, apapun itu. Maka dari itu, sering kita jumpai yang lemah selalu ditindas oleh yang berkuasa tanpa menghargai perasaan orang lain dan selalu saja mereka mengambil hak-hak yang bukan merupakan miliknya.
Kita sebagai warga Indonesia yang baik, harus menghentikan semuanya dengan cara member contoh yang baik terhadap masyarakat di mana pun kita berada., mematuhi segala aturan bukan karena takut dihukum tapi mematuhi segala aturan karena kesadaran diri sendiri. Saling menghargai, rendah hati, adil, bijaksan, jujur, dan amanah adalah sikap dan sifat yang harus kita miliki sebagai warga Indonesia yang baik. Kalau semua itu telah kita miliki, pasti kehidupan bangsa Indonesia akan makmur, damai, dan sejahtera. Oleh karena itu, mulai detik ini kita harus berusaha berubah menjadi yang lebih baik, mulai dari diri sendiri dan seterusnya. Kalu bukan kita yang mulai, siapa lagi?

Created by:
Risya Risky Nurul Qur’ani