Minggu, 21 Juli 2013

jangan hentikan impianku, Ayah

Awan mendung. Matahari enggan menampakkan sinarnya. Langit menjadi kelabu. Di kamar yang berukuran kecil ini, aku duduk di atas ranjangku yang amat empuk, sangat jauh dari hatiku yang tidak lagi empuk untuk saat ini. Telah berkali-kali aku menghapus air bening di pipiku, namun percuma saja karena air bening itu terus saja muncul. Di kupingku, suara dan kata-kata Ayah terus saja terngiang. “Kalau Ayah sudah bilang tidak, kamu tidak usah lagi mengulang permintaanmu! Ayah juga pernah kok ikut dalam sanggar itu, dan itu sangat menguras tenaga dan pikiran. Kamu itu bukan tunanetra biasa tidak seperti teman-teman kamu yang lain. Selain penglihatanmu yang bermasalah, kamu juga mengidap tumor otak! Kalau kamu kecapean atau kamu banyak berpikir, hal itu mengundang resiko besar atas kesehatanmu. Kalau kamu sakit lagi, bukan hanya dirimu yang merasakannya, tetapi kamu juga akan merepotkan orang-orang sekelilingmu. Andaikan jika kamu sakit yang repot kamu saja, tapi sayangnya yang akan repot kita juga! Sudah beberapa kali Ayah beri kesempatan untukmu, tapi nyatanya hasilnya begitu saja, tidak ada satu pun yang tuntas! Semuanya putus di tengah jalan! Hanya rasa capek dan sakit yang kamu dapatkan ditambah lagi kamu telah banyak merepotkan kita,” hardik Ayah tanpa memikirkan perasaanku. Aku hanya dapat menangis dan berusaha mengobati perasaanku sendiri. Rasanya aku hamper saja menyerah dengan semua ini. Tekanan batinku pun makin dalam. “Bagaimana seluruhnya dapat tuntas kalau Ayah sendiri berat hati dengan semua yang ingin aku awali, sekolah contohnya. Ketika aku meminta kepada Ayah untuk menyekolahkanku, sejak awal Ayah memang langsung menolak mentah-mentah permintaanku hingga akhirnya barulah aku dapat izin untuk bersekolah atas bujukan dari Ibu, itu pun Ayah selalu mengeluh karena jarak sekolahku yang terbilang jauh. Pokoknya semua yang kuingin lakukan, tidak pernah mendapat respon yang baik dari Ayah, maka dari itu pula hasilnya semua menjadi seperti itu. Ayah tidak pernah ikhlas dengan semuanya. Mungkin jangan-jangan Ayah juga belum ikhlas menerima keadaanku bahwa puterinya ini telah resmi menjadi seorang tunanetra. Mungkin di mulutnya Ayah bilang ikhlas namun tidak senada dengan isi irama di hatinya,” pikirku dalam hati. apakah aku salah kalau aku hanya ingin masuk ke sebuah sanggar untuk memperdalam dan mengasah bakat yang kumiliki? Bagiku rasanya ini tidak adil. Ya Tuhan, aku hanya ingin mewujudkan segala mimpi dan impianku walau kedua mata ini tinggal menjadi sebuah pajangan di wajahku. Aku dan para tunanetra sedunia juga berhak mewujudkan impian masing-masing sebab kesuksesan itu milik semuanya tak terkecuali kaum disibilitas, yang penting kita memiliki kemauan dan tekad kuat serta gigih dan tak pantang menyerah juga tidak takut untuk jatuh ataupun gagal. *** Toktok.. terdengar katukan pintu yang berasal dari ruang tamu. Aku yang tengah sarapan bersama keluarga di hari minggu yang cerah ini rupanya sudah kedatangan tamu sepagi ini. “Ran, coba lihat siapa tuh yang datang!” “Ibu, Rani kan tidak bisa melihat! Ibu ada-ada aja, yah palingan Rani hanya dapat mengenali suaranya! Itu pun kalau Rani kenal,” ujarku sambil berlalu menuju ke ruang tamu. “Assalamu alaikum…” sahut lelaki dibalik pintu. “Wa’alaikum salam, siapa ya?” tanyaku penasaran, suaranya rasanya tidak asing lagi di kupingku. Dengan perlahan aku pun membukakan pintu untuknya. “Eh, Nak Rani! Apa kabar? Tante dan Firdaus telah datang untukmu sesuai janji anak tante kepadamu,” kata wanita di hadapanku dengan lembut dan hangat yang tidak lain ibu yang telah mengandung Sang Pangeran hatiku. Rasanya hari ini aku sangat bahagia, tapi di sisi lain aku juga merasa takut dan cemas sebab kedatangan mereka ini bukanlah kedatangan mereka untuk pertama kalinya, tetapi sudah kedatangan mereka yang kedua kalinya. Bagaimana aku tidak merasa cemas?! aku takut Ayah dan Ibu akan kembali menolak pinangannya walaupun Ayah pernah berkata bahkan berjanji kepadaku bahwa jika memang Aku dan Firdaus berjodoh, Ayah tidak akan menghalanginya. Tetapi Ayah berkata seperti itu tetap di saat aku tengah sakit parah. Aku takut itu hanyalah sekedar janji palsu agar aku dapat sembuh dan dapat tersenyum kembali setelah kejadian penolakan lamaran Firdaus yang untuk pertama kalinya yang seketika membuat jiwaku terguncang hebat hingga mengundang tumor itu datang kembali. “Ran! Kok diam? Melamun ya? Kamu tidak mau mempersilahkan kami masuk nih?!” suara Firdaus seketika membuyarkan pikiranku. “Eh, maaf ya, ayo silahkan masuk. Tante hanya berdua? Yang lain mana? Kok tidak diajak sekalian ke sini?” “Oh yang lain pada masih ada di Kalimantan termasuk Ayah Firdaus. Dia belum dapat cuti dari perusahaan tempat dia bekerja. Oh ya, Ayah dan Ibu kamu mana? Kami ingin bicara,” “Ran, siapa yang datang?” Ayah dan Ibu tiba-tiba muncul di tengah-tengah kami. “Assalamu alaikum, Pak, Bu! Maaf kami telah mengganggu pagi-pagi begini,” “Oh tidak masalah kok, Bu! Oh ya, kalau boleh tau ada maksud apa Ibu dan Nak Firdaus berkunjung ke rumah ini?” Tanya Ayah tanpa basa-basi. “Baiklah Pak, Bu, maksud kedatangan kami ini yaitu tidak lain untuk meminang puteri Ibu dan Bapak untuk anak saya Firdaus. Saya berharap Ibu dan Bapak sudi untuk menerima pinangan kami ini,” jawab Bu Anwar langsung menyampaikan maksud kedatangannya. Sejenak suasana di ruang tamu itu menjadi dingin dan membeku. Beberapa menit kemudian, Ayah pun angkat suara dan mencairkan kebekuan suasana itu. “Maaf sebelumnya, bukannya kami ingin menolak niat baik Ibu untuk meminang puteri kami, tetapi kami ragu dan takut kalau anak Ibu bisa saja tidak dapat menghidupi ataupun menafkahi puteri saya juga anak-anak mereka kelak apalagi mereka sama-sama tidak dapat melihat ditambah lagi pekerjaan anak Ibu belum jelas dan kalau tidak salah anak Ibu hanyalah berprofesi sebagai pemijat saja bukan?! Selain itu, puteri saya ini walaupun tidak dapat melihat, ada beberapa lelaki yang hendak meminangnya dan Alhamdulillah diantara mereka banyak yang telah memiliki usaha dan pekerjaan tetap, berpendidikan tinggi dan juga shaleh. Kami ingin puteri kami dapat bersuamikan lelaki yang dapat melihat agar ia dapat dibimbing dengan baik. Dan sebaiknya anak Ibu juga dinikahkan saja juga kepada wanita yang dapat melihat agar ia bisa dibimbing dan dibantu oleh isterinya kelak,” terang Ayah panjang lebar. “Oh begitu ya, Pak! Baiklah kalau seperti itu menurut Bapak dan Ibu demikian. Kami tidak dapat memaksakan kehendak kami,” “Tunggu dulu Ayah! Bukankah Ayah pernah berjanji kepada Rani bahwa Ayah tidak akan menghalangi kami apabila kami ini memang sejodoh! Kalau Ayah kembali menolak pinangan Firdaus, itu sama saja Ayah telah menghalanginya. Rani tau Ayah dan Ibu memang tidak suka dengan Firdaus karena kami sempat berpacaran setahun, itu adalah kekhilafan kami berdua sebagai manusia yang tidak pernah luput dari lupa dan salah, tetapi yang penting kami telah telah bertaubat kembali ke jalan yang lurus dan menyadari bahwa pacaran itu haram di dalam islam. Dan bukankah Allah itu Maha Pengampun, dan seperti kata-kata yang selalu Ibu ucapkan bahwa ketika kita tengah bersalah tantunya kita juga butuh untuk dimaafkan. Oh ya ada satu hal yang harus Ayah dan Ibu ketahui, Firdaus itu juga dapat sukses seperti lelaki yang lain pada umumnya sebagaimana lelaki pilihan yang menurut Ayah dan Ibu itu terbaik buat Rani. Mereka itu dapat sukses seperti saat ini karena kebetulan mereka beruntung memiliki harta yang berkecukupan sehingga mereka dapat disekolahkan ke jenjang yang tertinggi hingga mereka dapat memiliki pekerjaan yang bagus ataupun mereka juga dapat mengembangkan usaha yang didirikannya juga berkat tunjangan modal yang cukup dari orang tua mereka. Sedangkan Firdaus, dia dilahirkan di tengah-tengah keluarga yang berekonomi pas-pasan tetapi ia sangat sabar menjalani kehidupannya sehingga dalam usianya yang masih kecil tepatnya pada waktu kelas 4 SD, ia memilih untuk memutuskan sekolahnya di tengah jalan walau sesungguhnya ia sangat bercita-cita untuk menjadi seorang guru. Sebagai anak ia sangat tau diri dan ia tak ingin menyusahkan orangtua. Ia pun bekerja di beberapa tooko dan yang paling penting baginya ialah pekerjaanya itu halal dan ia tidak mengemis-ngemis pada siapa pun. Dan hingga akhirnya di usia yang menginjak remaja, ia terpaksa kehilangan pekerjaan sekaligus penglihatannya yang seketika membuatnya sangat terpukul tetapi ia tetap bersabar yang hingga akhirnya ia dimasukkan ke dalam SLB gratis. Di sana, sambil bersekolah ia juga bekerja sebagai pemijat tetapi kini ia juga tengah sibuk berjualan ditambah lagi ia juga seorang atlet. Dan ia berencana untuk membuka panti pijat sendiri sambil ia berkuliah nanti mengambil ekstensi. Aku dan Firdaus ingin membangun semuanya dari nol hingga nantinya sukses bersama-sama. Dan aku sendiri ingin mengasah bakatku dan mengembangkan organisasi yang tengah kurintis saat ini yang insya Allah akan sukses. Jadi saya mohon, jangan hentikan segala impian Rani, aku mohon! Dan mengapa juga Ayah dan Ibu harus takut bila aku hidup bersama Firdaus? Bukankah Ayah dan Ibu tentunya sudah tau bahwa Tuhan telah mengatur dan menjamin rezeki seorang hambanya sejak ia dilahirkan hingga hamba itu meninggal?! Rezeki itu memang mesti kita jemput dengan usaha kita, dan saya tau dan sangat mengenali Firdaus sebagai seorang lelaki yang pekerja keras dan tidak suka bermalas-malasan,” mataku mulai berkaca-kaca hingga akhirnya menitikkan air bening di pipiku. Setelah sekian menit berbincang-bincang dari hati ke hati, keputusan Ayah dan Ibu tetap sama, keduanya tetap bertahan dan bersikeras hati pada pendapatnya. Dengan hati yang kecewa, Firdaus dan Ibunya akhirnya pamit untuk pulang. Aku sendiri beranjak masuk ke kamarku dan menangis sejadi-jadinya. *** ‘Dan biar cintamu… menari di hatiku.. dan menjelajahi ruang-ruang di hatiku..” terdengar nada handphoneku yang mengisyaratkan adanya sebuah panggilan masuk. Aku yang tengah tertidur seketika terbangun dan buru-buru menerima panggilan masuk di handphoneku. “Assalamu alaikum, Ran! Ada info bagus buat kamu!” sahut seseorang di ujung telpon. “Maaf kamu siapa ya?” tanyaku tidak dapat mengenali suara di ujung telpon itu. “Ya ampun! Kok kamu tidak dapat mengenali suara aku sih! Baru bangun ya?! Ini aku Luthfi,” “Oh Lutfhi ya! Sorry, iya nih aku baru bangun setelah menghabiskan sekian jam untuk menangis yang hingga akhirnya aku tertidur. Memangnya sekarang sudah jam berapa?” “Sudah jam delapan malam Nona Rani! Hebat banget ya tidurnya!” goda Luthfi sambil cekikikan. “Hus..! sudah, kata kamu ada info yang bagus untukku, kalau boleh tau info apaan ya?” “Aku kan tau kalau kamu itu sangat cinta pada hal-hal yang berkaitan dengan sastra, sains apalagi kedokteran! Tapi kali ini infonya berhubungan bukan berkaitan dengan sastra, tulisan ataupun penulisan dan semacamnyalah, tetapi ini info mengenai kedokteran! Sejak kecil kamu kan sangat ingin menjadi seorang dokter tetapi kini impianmu itu terbatasi oleh ketunanetraanmu bukan?!” “Iya..iya.. terus.. ayo lanjut!” “Aku baru saja habis berbincang-bincang dengan beberapa mahasiswa kedokteran dari universitas ternama di kota kita ini. Waktu aku ditanya-tanya oleh mereka mengenai cita-cita aku, aku menjawab bahwa aku ingin menjadi psikolog maka itu tahun depan aku ingin menembak jurusan psikolog pada SMPTN nanti. Terus mereka bilang mengapa aku tidak menembak jurusan kedokteran saja, yah aku jawab seadanya bahwa aku kan seorang tunanetra dan rasanya akan sulit bahkan sangat mustahil untuk dimasuki oleh kaum tunanetra seperti kita ini. Terus mereka berkata lagi bahwa sebenarnya hal itu sangat tidak mustahil untuk kita gapai sebab di Amerika sana, terdapat beberapa dokter yang merupakan seorang tunanetra. Walaupun mereka itu bukanlah seorang dokter spesialis, tetapi setidaknya mereka dapat menjadi dokter umum ataupun menjadi dokter di laboraturium,” “Hah?!! Masak sih?! Kok bisa? Bagaimana caranya? Semua alat-alat yang meski para dokter gunakan itu kan membutuhkan penglihatan!” “Nah itu hebatnya! Di sana, seluruh alat-alat yang mereka gunakan itu dapat berbicara layaknya handphone ataupun laptop yang kita sering gunakan sehari-hari.,” “Wah hebat banget ya! Tetapi bukankah di negeri kita ini Indonesia belum secanggih itu!?!” “Nah itulah yang disayangkan oleh mahasiswa-mahasiswa kedokteran itu. Tetapi kalau kamu memang ingin mewujudkan impianmu, terpaksa kamu mesti ke Amerika! Hehehe…” “Ah percuma saja! Hal itu tetap mustahil buatku. Selain aku itu masih kelas 2 SMA, ruang gerakku sangat dibatasi oelah orangtuaku. Aku saja yang ingin masuk ke dalam sebuah sanggar yang terletak lumayan jauh dari tempat tinggalku ini pun Ayah ku menolak mentah-mentah permintaanku itu, padahal tempatnya masih berada dalam kota ini! Apalagi ke Amerika?!! Yah aku sangat yakin Ayah dan Ibu tidak akan pernah setuju! Kecuali…,” “Kecuali apa?” “Yaa.. kecuali aku kaburlah!” “Ugh, dasar kamu! Oh ya, sudahan dulu ya, aku belum shalat isya nih! Memangnya kamu tidak shalat ya, Ran?” “Tidak, aku lagi berhalangan nih. Kedatangan tamu bulanan! Okey gih shalat sana!” telpon pun terputus. Kembali aku terdiam, perasaan sedih itu pun kembali hadir dan merasuk ke sukmaku. Namun seketika info yang baru saja aku dapatkan dari Luthfi, impianku untuk menjadi seorang dokter itu yang telah sekian lama kupendam dan kukubur dalam-dalam di hati dan pikiranku sekarang kembali timbul bahkan menyala-nyala di dadaku. Aku pun berpikir sebaiknya aku harus pergi dan meninggalkan rumah dan kota ini mumpun aku masih memiliki sejumlah tabungan. Aku harus berhasil meraih segala impianku. “Maafkan Rani, Ayah, Ibu.. Rani harus pergi. Rani tidak ingin lagi merepotkan kalian, Rani tidak ingin menjadi yang sesuai kata-kata Ayah selama ini bahwa aku telah banyak merepotkan dan menjengkelkan kalian. Rani memang sebaiknya harus pergi. Dan di suatu saat nanti, Rani akan menunjukkan kepada Ayah dan Ibu bahwa Rani dapat sukses seperti mereka yang normal. Salam kasih dan saying selalu buat Ayah dan Ibu,” suara Ibu seketika bergetar setelah membaca surat itu. Seketika sekujur tubuh menjadi lemas hingga akhirnya Ibu pun jatuh pingsan. “Ibu sudah sadar. Kurang ajar sekali anak itu! Anak itu taunya hanya menyusahkan orangtua saja!,” Ayah memaki. “Sudahlah Ayah, kita ini memang terlalu keras dan menekan Rani. Untuk sementara sebaiknya kita berdoa saja semoga Rani baik-saja di luar sana. Hanya Allah-lah yang mampu menjaga dan melindungi Rani,” *** Di bandara Soekarna Hatta, aku baru saja turun dari pesawat yang membawaku hingga ke tempat ini. “Mari saya bantu, Mbak!” seorang pramugari menawarkan bantuan kepadku untuk membimbingku. “Terima kasih ya, Mbak pramugari. Oh ya, mbak ini yang membawa makanan untuk para penumpang kan?” kataku seraya tersenyum manis kepadanya. “Iya, kok tau sih? Mbak mengenali suara saya ya?! Oh ya, mbak mau ke mana? Biar aku bantu untuk mencari taxi untuk mbak,” “Iya terima kasih, tapi sebaiknya tidak usah mbak, aku pengen hubungin salah seorang teman saya di kota Jakarta ini untuk menjemputku di sini sebab rencananya aku ingin menginap di rumahnya untuk sementara waktu. “Kalau begitu, saya temanin mbak ya sampai teman mbak datang. Saya hanya khawatir mbak cumin sendirian di sini,” “Mbak sangat baik. Terima kasih banyak, semoga Tuhan membalas kebaikan mbak,” kataku lalu memanggil handphone yang ada di sakuku. “Halo Mbak Mar, ini Rani. Sekarang Rani lagi ada di bandara nih, mbak bisa jemput Rani tidak? Rencananya Rani pengen menginap di rumah mbak untuk sementara waktu aja. Apakah mbak keberatan?” “Oh tentunya, Ran! Dengan senang hati aku akan menjemputmu dan memperbolehkanmu untuk menginap di rumahku. Tunggu ya, aku siap-siap dulu untuk menjemputmu!” Mbak Maria pun menutup telponnya. Aku kembali berbincang-bincang dengan pramugari yang baik hati itu. Kami juga berfoto dan saling menukarkan nomor handphone masing-masing. Setengah jam kemudian, Mbak Mariah telah datang menjemputku. Aku pun berpamitan kepada pramugari itu. “Sorry ya aku telah membuatmu lama menunggu. Wah nampaknya kamu sangat akrab ya dengan sang pramugari itu,” kata Mbak Maria membuka percakapan di dalam taxi yang kami tumpangi. “Wah itu mah no problem mbak! Semuanya sudah tau persis keadaan jalanan di kota Jakarta ini yang terkenal dengan super macetnya. Hahaha… dan seharusnya aku yang minta maaf karena sudah repotin mbak! Aku jadi sungkan,” “Tidak perlu sungkan, Ran! Anggap saja mbak ini adalah mbak kandungmu sendiri. Oh ya, kamu pengen buat apa jauh-jauh ke kota ini? Ada perlu?” Tanya Mbak Maria penasaran. Akhirnya aku menceritakan kronologi dan sebab mengapa aku terpaksa ke kota itu. Mbak Maria mendengarka ceritaku dengan hikmat. “Mbak, sudah sampai,” tegur sang supir taxi. “Oh sudah sampai rupanya! Tidak terasa ya, kita keasyikan ngobrol sih. Maaf yam as supir,” kata mbak Maria dengan ramah. *** Telah seminggu aku tinggal di rumah mbak Maria, dalam kurun waktu itu pula segala urusanku pun telah kelar. Aku dan mbak Maria berhasil mengurus surat kepindahanku dari sekolahku yang lama yang hamper setahun aku tidak masuk sekolah akibat sakit yang kuderita. Tidak pernah kusangka dan kubayangkan kalau akhirnya aku dapat kembali bersekolah apalagi bayangan pindah ke sola yang baru dan mesti bersekolah tanpa biaya dari sedikit pun dari orangtua, tetapi aku tidak khawatir sedikit pun sebab aku telah diterima sebagai contributor alias penulis bebas di salah satu perusahaan majalah ternama di kota ini. Dan gajinya pun lumayan untuk membiayai sekolah dan kebutuhanku sehari-hari. Sekarang aku tidak lagi tinggal bersama mbak Maria melainkan kini aku telah tinggal di salah satu rumah kost-kostan yang terletak tidak jauh dari rumah mbak Maria. *** Hari-hariku pun aku lalui dengan penuh perjuangan. Meski aku sangat sibuk dengan urusan pekerjaan dan sekolahku, aku tidak pernah meninggalkan kewajibanku sebagai seorang muslim. Selain itu, organisasi yang telah kurintis tetap berjalan baik dan lancer. Aku pun juga sangat bersyukur sebab aku berhasil diterima masuk ke dalam kelas sains yang ada di sekolahku walaupun aku sejujurnya agak kesulitan, tetapi setiap membayangkan impianku itu terwujud, rasa sulit dan lelah yang kurasakan lenyap seketika. *** 8 tahun kemudian.. aku baru saja menyelesaikan tugasku di laboraturium. Terdengar seorang lelaki tengah memanggilku. “Dr. Rani!! Ada seorang pasien tengah mencarimu!” teriak lelaki itu. Aku pun sangat terkejut sebab lelaki itu menggunakan bahasa Indonesia saat memanggilku. “Lama tidak jumpa anda, Dr. Rani! Aku adalah seorang pasienmu yang telah bertahun-tahun engkau tinggalkan. Wahai dokter cintaku, sembuhkanlah diriku ini dengan menerima lamaranku untuk ketiga kalinya. Please…!” kata lelaki itu sambil menyerahkan setangkai mawar putih kepadaku. “Firdaus! Benarkah kamu adalah Firdaus?!” tanyaku tak percaya. “Tepat sekali! Aku Firdaus, sang pangeran hatimu sekaligus pasienmu yang sekian tahun meninggalkanku,” “Subhanallah!! Allah memang Maha Kuasa. Akhirnya Dia kembali mempertemukan kita walau itu di kota Washington ini. Aku sangat terharu dengan kejutan ini. Dan sekarang aku akan menerima lamaranmu walaupun aku sedih karena Ayah dan Ibu tidak ada di sini menyaksikan saat-saat bahagiaku ini,” “Apakah kamu tidak ingin bertanya kepadaku mengenai profesiku saat ini?” “Mau kok! Memangnya sekarang kamu berprofesi menjadi apa?” “Alhamdulillah, aku sudah menjadi dosen di salah satu universitas ternama di Jerman dalam bidang hubungan internasional,” “Syukurlah kalau begitu, aku turut senang. Kalau begitu, sebaiknya kita segera mengurus pernikahan kita sebelum semuanhya terlambat,” “Maksud apa? Apa tidak sebaiknya kita pulang ke Indonesia dulu dan menikah di sana dan tentunya kamu harus meminta restu orangtua kamu dulu?!” “Aku takut mereka kembali menolak lamaranmu walaupun mungkin kamu itu telah sukses seperti ini. Aku sangat trauma dengan semua ini! Mungkin aku hanya dapat mengirimkan pesan kepada mereka bahwa kita akan menikah. Oh ya, bagaimana dengan orangtua kamu sendiri? Apakah dia tau mengenai hal ini?” “Tentu, sebelum aku ke sini aku menyempatkan pulang ke Indonesia meminta doa dan restu dari keduanya. Kamu kan sudah tau bahwa orangtua aku tidak pernah menghalangi anak-anaknya yang ingin menikah dengan pilihannya sendiri selama calonnya itu orang yang baik,” “Yah.. andai saja orangtuaku juga seperti itu, tapi sudahlah. Sekarang kita harus menyelesaikan urusan pernikahan kita ini,” “Okay, dengan senang hati tentunya!” *** Toktok… terdengar suara pintu diketuk. Bu Syaid yang merupakan ibu Rani bergegas membuka pintu. “Assalamualaikum Bu!” “Nak Firdaus! Tunggu dulu, anak kecil yang bersamamu itu anak kamu dan Rani?!” “Iya, Bu, ini anak saya dan Rani,” “Oh cucuku… kamu sangat ucu dan tampan saying.. wajahmu perpaduan wajah Ayah dan Ibumu. Lihat matamu, matamu sama dengan mata Ibumu. Nak Firdaus, mana Rani? Ibu sangat rindu padanya,” “Maafkan aku, Bu.. saya tidak menyampaikan sebelumnya kepada Ibu bahwa Rani telah tiada di dunia ini. Sebelum kami menikah pun, Rani merahasiakan kepadaku bahwa tumor otaknya telah memasuki stadium akhir. Semangat besar yang ia miliki itu mampu membuatnya dapat bertahan melalui masa-masa sakitnya selama 3 tahun. Bahkan Rani tidak pernah Nampak sakit ataupun mengeluh, ia selalu ceria menjalani hari-hari bersamaku. Aku baru tau bahwa ia tengah kembali diserang oleh tumor itu ketika aku mendapatinya tergeletak pingsan di kamar mandi yang segera kularikan ke umah sakit terdekat Setelah memeriksa ecara detail kondisi Rani, dokter pun menyampaikan kepadaku bahwa umur Rani tinggal menghitung hari,” “Jadi Rani meninggal di rumah sakit itu?” “Iya, Bu. Setelah seminggu ia koma, pada saat yang bersamaan aku baru aja selesai mengerjakan shalat lail dan berdoa untuk kesembuhan Rani dengan curahan air mataku sebagai saksi bisu, tiba-tiba Rani bangun dari komanya dan memanggil namaku. Aku sangat bersyukur dan segera menghampirinya lalu mengecup keningnya. Kemudian ia menggenggam erat tanganku lalu berkata bahwa ia ingin tidur di pangkuanku. Aku pun elakukan sesuai permintaanya itu dengan hati-hati sebab alat-alat yang terpasang pada tubuhnya cukup banyak. Setelah itu, ia berbisik kepadaku agar aku membimbingnya untuk mengucapkan dua kalimat syahadat sebelum ia akan benar-benar tidur untuk selamanya. Dan Alhamdulillah, ia berhasil mengucapkannya denganfasih dan mudah,” “Rani…” lirih Ayah Rani yang rupanya mendengar percakapan mereka sejak awal. “Ayah.. puteri kita telah tiada..,” jerit pilu membahana di rumah itu. “Oh ya, ini ada kejutan buat Ayah dan Ibu yang telah lama Rani siapkan dari jauh hari,” kata Firdaus seraya menyerahkan sabuah map dan sebuah amplp kepada kedua orangtua Rani. “Apa ini, Nak?” “Itu adalah sertifikat rumah, Rani telah membeli sebuah rumah mewah di Washington buat Ayah dan Ibu. Dan yang satunya lagi itu adalah surat undangan untuk Ayah dan Ibu untuknaik haji di tahun ini, Rani juga telah mendaftarkan nam Ayah dan Ibu sebagai calon jamaah haji untuk tahun ini. Selamat ya buat Ayah dan Ibu!” Firdaus mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan kepada keduanya dengan mata yang basah. Seketika Firdaus dirangkul erat oleh keduanya sambil mengucapkan maaf sebesarnya. Tak lama kemudian, terdengar suara benda berat dan besar baru saja terjatuh di dekatnya. Firdaus pun makin terperanjat mendengar teriakan Syafi anaknya. “Grandma…!!” “Ibu..!! bangun Ibu!! Ibu.. Iibuu..!!”” ###

Kamis, 28 Februari 2013

Peran Pancasila dalam menyikapi arus globalisasi

lomba blog pusaka indonesia 2013










Beberapa hari yang lalu ketika saya jalan-jalan ke facebook, perhatian saya tersita oleh sebuah informasi lomba blog yang diadakan oleh kerjasama antar Yayasan Pusaka ndonesia dan Penerbit Dapur Buku yang bertema 'Penguatan identitas bangsa dalam komunitas global dan multikultural'.. Membaca tema lomba tersebut, dengan kening berkerut, saya berpikir bahwa tema ini gampang-gampang susah. Saya mengatakan demikian sebab rutinitas yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari tentu bahkan hampir sebagian sangat berkaitan yang mau tidak mau mesti menggunakan campur tangan informasi teknologi dan sosial media. Tanpa kita sadari, kita telah candu akan hal tersebut alias tak bisa lepas dari kehidupan kita sehari-hari yang penggunanya itu baik dari kalangan anak-anak, remaja hingga dewasa. Namun sayangnya hanya sedikit yang mau ikut merenungkan dampak-dampak positif ataupun negatif dari hal tersebut. Sehingga saya sangat berterima kasih dan mengacungkan seratus jempol buat Yayasan Pusaka Indonesia dan Penerbit Dapur Buku yang telah mengajak saya dan yang lain untuk sejenak merenung akan hal tersebut.

Sesuai pernyataan dan pertanyaan yang telah dikemukakan oleh lomba ini bahwa Arus globalisasi di era teknologi informasi dan social media seperti saat ini, tentu tak terbendung lagi. Berbagai macam budaya dan gaya hidup mewarnai dan mempengaruhi kehidupan kita sehari-hari. Sebagai sebuah bangsa yang punya identitas unik, bagimanakah posisi kita di tengah arus globalisasi? Bagaimana peran pancasila dalam menguatkan identitas bangsa kita, di tengah kepungan komunitas global &berbagai macam budaya tersebut. Sungguh dua pertanyaan yang saling berkaitan antara satu yang lain, begitu pun dengan jawaban-jawaban dari kedua pertanyaan itu.

Untuk pertanyaan yang pertama, saya akan menjawab dan mengatakan bahwa posisi kita saat ini tengah berada dalam bahaya. Budaya-budaya dari luar yang masuk ke dalam negri kita telah perlahan namun pasti mengubah bahkan menghancurkan budaya, gaya hidup, dan pola hidup yang kita miliki. Tetapi Satu hal yang harus kita ketahui bahwa hal itu dapat kita antisipasi jika kita memiliki filter dan kepribadian yang kuat. Jika kita ini memang mengaku dan tahu diri bahwa kita adalah bangsa Indonesia, kita wajib menanamkan dan mempertahankan ideologi pancasila dalam jiwa  dan kehidupan kita sehari-hari dimana pun kapan pun termasuk dalam arus globalisasi saat ini. Informasi teknologi dan sosial media telah menyuguhkan kepada kita beraneka ragam budaya, gaya hidup dan pola pikir yang berbeda-beda. Kita perlu berhati-hati akan suguhan-suguhan tersebut sebab hal itu sangat berpengaruh pada pribadi bangsa kita yang menjujung tinggi budaya timur bukannya terbawa-bawa arus masuk dalam budaya barat yang cendrung berideologi liberal, kapitalis, dan komunis. Salah satu contoh adanya pengakuan dan lampu hijau akan hubungan seks bebas dan homo seksual dan sebagainya yang sungguh sangat bertolak belakang oleh nilai-nilai agama dan luhur bangsa kita.  Bahkan parahnya mereka membentuk komunitas dan mereka tak akan segan -segan melakukan perlawanan dan pembelaan mati-matian kepada para yang kontra. Maka dari itu, kita perlu pintar memilah-milah suguhan buat kita.
Selanjutnya untuk pertanyaan yang kedua, saya akan menjawab sekaligus sedikit menjelaskan akan peran pancasila dalam masalah ini. Dalam hal ini, tentu pancasila memiliki peran yang amat besar dan kuat untuk meyikapi dengan bijaksana. Namun sebelum membahas lebih lanjut akan hal ini, sebaiknya kita perlu terlebih dahulu memahami makna dan tujuan sebenarnya dari pancasila. Siapa sih  yang tidak tahu dengan pancasila?! tentu kita semua telah tahu bahkan hapal mati sejak kita sekolah dasar  tentang kelima sila itu, tapi sayangnya ironis masih sedikit yang memahami makna sejati dari kelima sila itu atau ada juga yang memahami makna itu tetapi belum mampu untuk mengaplikasikannya dalam kehidupan kita sehari-hari. Jadi peran pancasila sebagai ideologi ataupun falsafah bangsa Indonesia, tentu menjadi pegangan kuat yang fungdamental dalam menyikapi serangan-serangan dari budaya luar bangsa kita. Seperti yang saya katakan sebelumnya, sekali lagi, kita harus pintar memilah-milah suguhan mengenai budaya luar beserta gaya hidup dan pola pikir yang mungkin berbeda dengan ideologi dan nilai-nilai  dari pancasila. Panccasila juga akan berperan aktif yang akan menjadi tolak ukur dalam menerima budaya-budaya luar beserta gaya hidup dan pola pikir yang ada. Pantas dan sesuaikah dengan nilai-nilai pancasila sehingga kita dapat menerima dan mengaplikasikannya dalam kehidupan kita sehari-hari! Kalau pun ada budaya, gaya hidup, dan pola pikir dari luar bangsa kita namun bernilai positif & tak melenceng dari nilai-nilai pancasila? Kenapa tidak!! Tentu kita dapat menerimanya dengan baik, begitu pun sebaliknya. Saya akan memberi contoh terkait yang berhubungan dari setiap sila, yaitu:
1. Ketuhanan yang Maha Esa
Contoh kasus yang ada yakni adanya penyesatan agama yang mempengaruhi dan mengajak serta untuk melenceng dari agama yang telah kita anut masing-masing. Melalui informasi teknologi dan sosial, serangan dari beberapa budaya luar kerap menghasut kita untuk meninggalkan agama kita selama ini, bahkan mengajak kita untuk menjadi pengikut aliran sesat, komunis ataupun pemuja setan, dan sebagainya. Ironisnya banyak dari kita khususnya para pemuda menjadi korban dimana sang idola yang mereka puja itu yang rata-rata artis barat rupanya tidak bertuhan dan ada juga yang ikut menjadi pemuja setan. Mungkin tidak perlu saya sebutkan namanya satu persatu. parahnya karena sang idola menganut paham tersebut, tak jarang ada dari diantara kita mengikuti jejak sang idola tersebut. Idih amit-amit! Jangan sampai kita masuk di dalamnya. Bukankah esa itu artinya satu?! Jadi Tuhan itu cuman satu, tidak kurang tidak lebih.
2. Kemanusiaan yang adil dan beradab
Contoh kasus, masihkah kita mengingat kejadian yang sangat menggeramkan kaum muslimin dengan rencana pembakaran al-qur'an? Mengapa hanya al-qur'an yang ingin dibakar? Mengapa dengan kitab-kitab yang lain? Sungguh tindakan tersebut amat jauh dari sila kedua ini sebab kita ketahui bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila sangat menjunjung dan menghargai toleransi antar umat dan bertata krama ataupun beradab yang merupakan identitas dan berciri khas bangsa Indonesia. Sebagai budaya timur, kita sangat menjujung tinggi moral, etika dan nilai-nilai luhur yang lainya. Peristiwa itu sempat menjadi topik hangat yang dibahas oleh banyak kalangan yang disiarkan melalui media informasi teknologi dan sosial media.
3. Persatuan Indonesia
Contoh kasus yaitu adanya propokator dari negri lain untuk mengadu domba dan memecah belah antar umat yang ada di Indonesia. Mereka memiliki tujuan untuk merusak persatuan bangsa kita. Peperangan yang terjadi di Irak maupun di Palestina memang sih sebaiknya kita perlu mengirimkan bantuan kepada para korban, tetapi tak seharusnya kita mesti ikut-ikutan membenci ataupun memerangi kaum umat di Indonesia yang kebetulan menganut agama yang sama dengan kaum umat agama yang telah menyiksa kaum muslim di Irak dan Palestina sebab kaum umat yang bersangutan yang ada di Indonesia itu pun tidak tahu menahu asbab sebab terjadinya peperangan itu.
4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan.
Contoh kasus, demokrasi yang ada di negri ini telah dicemar oleh budaya luar melalui informasi teknologi dan sosial media. Tuding menuding dari setiap pihak tak dapat dihindari padahal seharusnnya kita sebagai bangsa Indonesia seharusnya bersikap bijaksana dalam meyikapi perseteruan antar pihak yang satu dengan yang lain seperti antar partai dan sebagainya, bukannya saling menjatuhkan ataupun mengompori. Apakah kita tidak malu kepada bangsa lain yang memprhatikan laju roda pemerintahan negri kita ini.
5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
Contoh kasus, perlakuan yang kurang adil bagi para tenaga kerja Indonesia, bahkan kerap mereka mendapatkan kekerasan dari sang majikan. Ironisnya melalui media informasi teknologi dan sosial, kita yang semestinya bersikap tegas akan kasus tersebut dengan mengerahkan masyarakat untuk membantunya dalam bentuk perhatian, moril, atau materi melalui media itu, rupanya sebagian dari diantara kita memeladani sikap keji dari beberapa majikan mereka sehingga pembantu-pembantu yang ada di Indonesia pun juga sama mendapat perlakuan yang tidak manusiawi layaknya para TKI yang telah menjadi korban dari sang majikannya.

Maka dari itu, di tengah arus globalisasi ini, kita mesti menunjukkan dan memperkuat identitas bangsa kita dengan mengharumkan nama bangsa Indonesia. Untuk mengharumkannya, tentu dengan menanamkan dan mengaplikasikan nilai-nilai dari pancasila itu dalam kehidupan kita sehari-hari. Dengan memiliki pegangan yang kuat, tentu budaya dari luar tak akan mudah menggoyahkan ataupun mempengaruhi dan melunturkan budaya bangsa kita yang unik ini.

Semoga tulisan saya mudah dicerna, saya pun telah sengaja memilih bahasa yang agak ringan karena saya yakin tidak semua pembaca mudah paham akan bahasa yang tinggi ataupun berat, apalagi pengomsumsi media informmasi teknologi dan media sosial bukanlah hanya kalangan remaja ataupun dewasa, melainkan ada adik-adik kita yang masih berusia sekolah dasar. Semoga bermanfaat untuk kehidupan bangsa ini.


Sabtu, 26 Mei 2012

Duhai Peri Kecilku


Juangkan hadirmu di dunia
Buat raga ini nyaris layangkan nyawa
Namun pesona hadirmu telah lukiskan senyum bahagia
Melodi tangisan merdu lenyapkan rasa luka

Masa silih berganti dan terus berlalu
Kau tumbuh menjelma layaknya sang peri kecil nan ayu
Curahkan air mata haru
Pandangi setiap gerikmu yang lucu

Suatu masa tiba menyapa
Memaksa kelamkan warna pandangmu dalam perihnya sakit yang kau rasa
Derita dan jerit tangis menyesakkan dada
Ciptakan ruang lara

Sang dewa maut hadir menjemputmu
Tinggalkan duka serta kenangan yang merasuk setiap kalbu
Pecahkan air mata akan kepergianmu
Namun kepergianmu telah hapuskan segala nestapamu

Created by:
Risya Rizky Nurul Qur’ani

Akhir dari Sebuah Perjuangan


            Langit di luar sana nampak mendung. Awan kelabu turut menghiasi. sang surya seakan enggan menampakkan sinarnya. Suara guntur yang menggelegar seolah mengisyaratkan pertanda hujan akan turun. Tik tik..tik.. selang beberapa detik kemudian , hujan telah membasahi segalanya. Dalam lebatnya hujan, nampaklah seorang gadis bersama tongkatnya yang tengah kebingungan mencari tempat untuk berteduh, seluruh pakaian yang ia kenakan telah basah kuyup. Tubuhnya menggigil,  ia menggigit bibirnya sendiri menahan dingin yang menusuk.
“Aku ingin pulang… tubuhku....” rintihnya. Brukk!!! Tubuh gadis itu ambruk, ia kehilangan keseimbangannya hingga akhirnya ia tak sadarkan diri.

-***-

Beberapa jam kemudian, gadis itu telah sadar.
“Di mana aku ini?” Tanya gadis itu seraya meraba di sekitarnya.
“Dasar anak bodoh! Kamu bisanya hanya menyusahkan orang tua ya!”, terdengar suara makian dari seorang wanita tua yang mungkin merupakan Ibu dari gadis itu.
“Ibu… kok Ibu ada di sini? Oh ya, Bu, sekarang Lia ada di mana?” Tanya  gadis itu yang ternyata bernama Lia.
“Sekarang kamu ada di rumah sakit, untung saja ada tetangga dekat rumah yang lihat kamu tengah pingsan di pinggir jalan. Malu-maluin aja kamu! Apa kata tetangga nanti, mereka pasti bilang saya tidak becus mengurus kamu,” jelas ibu itu disusul dengan sebuah tamparan yang mendarat langsung ke pipi Lia. Lia meringis, air matanya pun bercucuran, namun ia hanya pasrah diperlakukan seperti itu. Ibunya mengajaknya pulang dengan kasar menarik lengan Lia.
“tunggu dulu, Bu… uang dan semua barang dagangan Lia ada di mana, Bu? Lia ingin membawanya pulang,” Tanya Lia.
“Semua uang hasil daganganmu Ibu pakai untuk bayar biaya perawatanmu, dan semua kripik daganganmu Ibu buang ke tong sampah, puas!” jawab ibunya. Lia hanya menghela nafas panjang tanpa berkomentar sedikit pun. Akhirnya, mereka pun meninggalkan tempat itu.

-***-

Setibanya di rumah, bukannya menyuruh Lia istirahat, malahan Lia menerima sejuta makian yang bertubi-tubi dari ibu dan kakaknya. Kemudian ibunya berkata pada Lia agar menghentikan dagangannya. Selain itu, ibunya juga berkata bahwa ia malu memiliki anak cacat seperti Lia dan tak bisa membanggakan orang tua tak seperti  kakaknya yang telah hampir berhasil menjadi seorang dokter. Bahkan parahnya, ibunya menceritakan bahwa sewaktu kecil, ibunya hampir membuangnya ke tong sampah karena tak menginginkan kehadirannya di dunia ini namun dicegah oleh ayahnya. Seketika Lia tersentak bak disambar oleh petir di siang bolong, ia tak pernah menyangka ibunya akan berkata demikian. Sejak insiden itu, Lia jarang lagi keluar dari kamarnya kecuali untuk mengerjakan tugas-tugas rumahnya sebagai anak yang harus membantu orang tua, dan tak ada secuil pun terbersit dalam hati dan pikirannya rasa benci kepada mereka. Ia tetap menyayangi mereka dengan sepenuh hati.

-***-

Rasa sepi serta hampa telah menerpa kehidupan dan kesehariannya seolah hidup sebatang kara di dunia ini. Tiada lagi canda tawa yang mewarnai hidupnya, keceriaannya telah lenyap. Sepeninggal Ayahnya, Lia tak pernah lagi merasakan hangatnya kasih sayang dari keluarga sebab cuman ayahnyalah orang di dunia ini yang paling menyayanginya. Mengajari Lia untuk berjalan sendiri dengan menggunakan sebuah tongkat dan membacakan sebuah buku cerita untuk Lia pada setiap malamnya merupakan rutinitas sehari-hari yang dilakukan oleh ayahnya sewaktu masih hidup. Semua kenangan itu masih tersimpan rapi dalam benaknya. Malam itu, kenangan itu terus menari-nari dalam otaknya hingga akhirnya ia pun tertidur. Dalam tidurnya, Lia bermimpi  berada di suatu tempat dan mendengar sebuah suara yang memanggil-manggil namanya, suara yang tak asing lagi di kupingnya, suara itulah yang selalu ia cari dan ia rindukan selama ini yang tak lain itu adalah suara ayahnya. Mereka pun bertemu dan saling berangkulan disertai deraian air mata dari keduanya, namun tak lama kemudian sekejap ayahnya menghilang dari dekapannya, Lia pun berteriak histeris memanggil-manggil   ayahnya seolah takut kehilangan ayahnya. Lia pun terbangun dari mimpinya, namun ia menemukan bantalnya telah basah oleh air matanya.

-***-

Keesokan harinya, Bu Risa salah satu tetangganya mampir ke rumahnya menginfokan kepada Lia tentang SLB gratis yang terletak tak jauh dari rumah sanak keluarganya yang mungkin membutuhkan sekitar 10 jam untuk sampai ke tempat itu. Ibunya yang kebetulan lewat, sangat senang dan sungguh berantusias untuk memasukkan Lia ke SLB itu sebab pikirnya dengan tiadanya Lia di rumah ini akan menghilangkan bebannya selama ini. Lia bahagia bercampur sedih sebab impiannya untuk bersekolah telah tergapai namun ia harus tinggal jauh dari ibunya. Lia tak pernah tahu tentang niat yang terselubung dibalik semua itu, andai Lia tahu yang sebenarnya, tentulah hatinya makin terluka.

-***-

Esok harinya, dengan diantarkan oleh Bu Risa yang kebetulan ingin berkunjung ke rumah sanak keluarganya, ia pun pamit kepada Ibu dan kakaknya lalu berangkat meninggalkan keduanya yang nampak bahagia dengan kepergiaan Lia. Sepanjang perjalanan, Lia tak henti-hentinya meneteskan air mata, perasaan haru dan sedih berbaur tak menentu melanda hatinya.

-***-

Setiba di SLB itu, orang-orang di sana menyambut hangat kedatangan Lia sebagai murid baru. Setelah berkenalan dengan semuanya, ia diajak  untuk mengitari seluruh ruangan dan tempat yang ada di SLB itu. Karena malam telah hampir tiba, Bu Risa pun pamit untuk pulang dan tak lupa Lia mengucapkan banyak terima kasih pada Bu Risa.

-***-

Seminggu kemudian, Lia telah dapat beradaptasi pada lingkungan sekitarnya. Bahkan Lia telah dapat menguasai huruf-huruf Braille yang telah diajarkan kepadanya, ia juga telah dapat menggunakan alat-alat elektronik seperti computer dan telepon genggam yang telah diberi semacam alat bantu khusus untuk para kaum tuna netra yaitu sebuah aplikasi yang telah diprogram untuk membacakan tulisan-tulisan yang tertera pada layar kedua alat elektronik tersebut. Program JAWS hanya diperuntukkan pada computer, sedangkan pada telepon genggam menggunakan program Talks. Meski kedua program itu berbeda, namun keduanya memiliki fungsi yang sama.

-***-

Tanpa terasa Lia telah setahun menempuh pendidikan di SLB itu, selama itu pula ia telah banyak mengukir prestasi dan mengharumkan nama SLB itu di tengah masyarakat berkat menjuarai beberapa lomba menulis dan mengarang yang diadakan di berbagai tempat. Hobi dan bakat menulis yang dimilikinya, telah melahirkan beberapa tulisan-tulisan karyanya yang begitu indah untuk dibaca. Lia adalah gadis cerdas yang memiliki daya tangkap yang kuat juga tekun dan merupakan seorang pekerja keras. Maka tak heran lia bisa seperti saat ini. Lia mengirimkan sebagian uang tunai hasil perlombaannya itu kepada ibu dan kakaknya dan sisanya ia sisihkan untuk ditabung agar ia dapat membeli sebuah laptop berhubung computer yang ada di SLB itu cuman satu sedangkan siswa yang ingin menggunakannya sekitar 50 siswa. Meski uang harga laptop lumayan tinggi, namun ia tetap berjuang untuk mendapatkan sebuah laptop sebab ia sangat membutuhkan benda itu sebagai media untuknya menuangkan tulisan-tulisannya itu disbanding ia harus menggunakan setumpuk kertas yang terkadang tulisannya tak dapat dibaca lagi oleh beberapa faktor.

-***-

Sebulan kemudian, tepatnya di hari Minggu yang cerah pada awal bulan Agustus, Lia kedatangan Bu Risa yang membawa sesuatu untuknya yang ternyata ialah sebuah laptop. Setelah menerima pemberian itu, Lia mematung, ia menyangka dirinya tengah bermimpi. Namun setelah Bu Risa menepuk pundaknya, barulah ia sadar bahwa semua ini bukanlah sebuah mimpi. Lia pun spontan mengucapkan terima kasih seraya memeluk Bu Risa. “Suami Ibu telah membeli sebuah laptop, daripada laptop itu hanya menganggur, Ibu pikir mending laptop itu buat kamu yang hobi nulis,” ujarnya merendah. Setelah memberikan laptop itu kepada Lia, Bu Risa pun segera pamit, ia nampak tergesa-gesa sebab ia telah ditunggu oleh suaminya yang telah berkali-kali membunyikan klakson dari mobilnya.

-***-

Sejak ia memiliki sebuah laptop, dengan ditemani oleh sekawan burung yang berkicau di atas pohon yang seolah bernyanyi untuknya, disertai semilir angin yang membelai wajahnya, dan dikelilingi oleh bunga-bunga yang bermekaran di sana-sini, Setiap saat jari-jemarinya seakan tak ingin berhenti bermain di atas tuts laptop yang selalu setia menemaninya untuk menuliskan segala yang bersumber dari berbagai hal dalam kehidupan sehari-hari namun menarik baginya. Laptop itulah yang akan menjadi saksi bisu atas perjuangan Lia selama ini untuk menjadi seorang penulis sejati.

-***-

Seiring waktu berjalan,  hari demi hari, bulan demi bulan, hingga tak terasa tahun pun silih berganti. Pada hari ini, Lia tepat menginjak usia 17 tahun, usia yang manis bagi seorang gadis seusianya. Para sahabatnya sepakat untuk menyiapkan sebuah kejutan untuknya. Seorang temannya membawanya ke taman dan mendudukkannya pada sebuah kursi kayu. Meski tak tahu apa-apa, ia hanya mengikut pada permainan temannya itu. Seketika sebuah mahkota yang terbuat dari butiran manik-manik yang telah dirancang sedemikian rupa telah terpasang manis di atas kepalanya, ia Nampak anggun dengan mahkota itu. Lalu ia dikejutkan oleh suara rentetan terompet yang membahana dari segala arah disertai sebuah lagu ulang tahun yang dinyanyikan serempak oleh seluruh temannya. Seorang dari mereka membawa sebuah kue ulang tahun yang di atasnya telah terpasang dua buah lilin sesuai usianya saat ini. Setelah meniup kedua api lilin atas permintaan para temannya itu, Lia mengucapkan banyak terima kasih atas pesta sederhana itu namun sangat berkesan dan berarti buatnya.

-***-

Malam hari pun tiba, sang bulan pun telah hadir di tengah-tengah jutaan bintang yang saling beradu untuk memancarkan kilauan sinarnya. Seperti biasanya, Lia tengah seriusnya mengerjakan tugas sekolahnya yang telah menumpuk, Lalu dilanjutkan oleh kegiatan menulis yang sering ia lakukan setiap malamnya. Uhuk..uhuk… Lia terbatuk, membuat dadanya terasa perih yang luar biasa hingga tubuhnya pun ikut terguncang. Lia meredam suara batuknya dengan menutup mulutnya dengan menggunakan salah satu tangannya agar suara batuknya itu tak mengganggu teman kamarnya yang tengah asyik tidur. Uhuk…! Seketika dari mulutnya memuncratkan cairan merah, cairan itu mengenai tangan dan tepi bibirnya. Bu Rahma istri dari kepala asrama tak sengaja menemukan Lia dangan tubuhnya yang nampak terguncang oleh batuknya. Wajahnya nampak pucat dan ia mendadak demam, dan suhu tubuhnya meningkat melebihi suhu normal pada umumnya. Ketika Bu Rahmah berniat untuk mengambil obat buat Lia, pandangannya tertuju pada bercak-bercak darah yang telah mengotori lantai yang ada  di sekitar tempat Lia duduk saat ini. Matanya terbelalak seolah ia sangat terperanjat pada apa yang baru saja ia lihat tepat di hadapannya. Seketika matanya pun tertuju pada Lia yang masih saja menutupi mulutnya seakan menyembunyikan sesuatu di baliknya. Bu Rahma memandang Lia dengan seksama, nampak padanya tangan dan mulut Lia terbalur oleh tetesan darah. Ia pun meminta penjelasan pada Lia mengenai hal tersebut, Lia hanya terdiam tak tahu apa yang semestinya ia katakan pada Bu Rahma sebab ia pun tak mengerti apa yang terjadi padanya saat ini. Karena Bu Rahma terus mendesaknya, terpaksa Lia pun berbohong dengan mengatakan bahwa darah itu berasal dari gusi dan bibirnya akibat terbentur pada dinding saat ia tengah berjalan tadi. Nampaknya Bu Rahma agak ragu pada jawaban Lia, ia pun segera beranjak dari tempat itu untuk mengambil sebutir obat dan segelas air putih untuk Lia meski dalam hatinya masih menyisakan beberapa tanya.

-***-

Demikianlah hal itu sering terjadi berulang kali, selera makannya pun telah lenyap, tubuh idealnya kini berubah drastis menjadi tubuh yang tipis dan kurus, dan tak jarang ia selalu saja terjangkit oleh influenza yang hilang timbul. Ia pun memutuskan untuk mencari tahu mengenai kondisinya yang makin hari makin memburuk. Kini ia telah berada tepat di hadapan komputer milik sekolahnya yang telah dihubungkan pada sebuah modem. Setelah sejam berkutat di depan layar computer, akhirnya ia pun berhasil menemukan jawaban atas pertanyaannya selama ini. Dengan hati miris, ia pun membaca kata demi kata yang tertera pada layar computer tersebut. Ia berusaha mencerna tulisan pada artikel itu dengan seksama. Kini ia pun tahu akan kondisinya saat ini yang ternyata ia tengah mengidap sebuah penyakit yang telah menggerogoti tubuhnya. Seusai mematikan computer itu, ia pun beranjak dari tempat itu dan kembali ke kamarnya. Di kamar, tulisan artikel tadi terus berputar-putar memenuhi ruang otaknya seakan menghantuinya. Ia sangat menyesal akan pola hidup buruk yang ia miliki dan seringnya begadang telah membuat dirinya terjangkit oleh penyakit mematikan itu. Ia pun berniat untuk meninggalkan SLB itu sebab ia tak ingin penyakitnya itu menular kepada orang di sekitarnya.

-***-

Pada esok harinya, ia pun telah siap beserta barang-barangnya yang telah ia bereskan semalam untuk meninggalkan SLB itu dengan berat hati. Dengan alasan ingin istirahat, ia pun pamit kepada para penghuni SLB itu yang nampak begitu berat melepaskan kepergian Lia disertai air sungai yang deras mengalir dari pelupuk mata mereka. Lia pun beranjak dari tempat itu dengan menumpangi sebuah bus.

-***-

Sekitar kurang lebih 10 jam kemudian, Lia pun telah tiba di muka rumahnya dengan selamat. Ketika ia masuk ke dalam rumahnya, ia menemukan rumahnya nampak sepi, ibu dan kakaknya pun tak ada di tempat sedangkan pintu rumahnya sama sekali tak terkunci sehingga tadi ia dengan mudahnya menerobos masuk ke dalam rumah tanpa menunggu ibu atau kakaknya untuk membukakan pintu, ia pun berpikir bahwa mungkin ibunya lagi tengah berbelanja di kios Pak Jalil yang tak jauh dari rumahnya itu. Saat Lia masuk ke kamarnya dan menuju ke tempat tidurnya, betapa terkejutnya ia menemukan kamarnya telah disulap menjadi sebuah gudang. Hatinya pun menangis sejadi-jadinya. Karena tempat itu dipenuhi oleh debu, Lia spontan terbatuk seraya keluar dari gudang itu. Pada saat yang bersamaan, ibu dan kakaknya telah datang, mereka sangat terperanjat akan kehadiran Lia yang kini berada tepat di hadapan keduanya. Tiba-tiba pandangan mereka mengarah pada lantai putih yang telah ternoda oleh tetesan-tetesan darah di sekitar Lia berpijak saat ini. Seketika itu pun Lia diusir oleh kakaknya sebab kakaknya yang merupakan seorang mahasiswa kedokteran dan tentunya ia tahu persis akan penyakit Lia itu. Ibunya yang tak tahu menahu akan penyakit itu hanya terdiam mendengar penjelasan dari kakak Lia bahwa Lia tengah mengidap penyakit Tuberklosis atau disingkat dengan nama TBC yang dengan mudah menular pada orang di sekelilingnya. Kakaknya pun menambahkan pada ibunya bahwa penyakit itu bisa mematikan penderitanya. Setelah mengetahui hal itu, ibunya pun ikut mengusirnya sebab ia takut tertular oleh  penyakit itu. Lia hanya tertunduk lesu disertai air sungai yang mengalir dari kedua matanya.Dengan langkah gontai, Lia pun menyeretkan langkahnya  meninggalkan keduanya.

-***-

Di luar sana langit jingga telah memudar, yang kini tergantikan oleh langit yang kelam namun nampak benderang sebab kilat yang menyambar-nyambar. Percikan-percikan air dari langit seakan melukiskan nestapanya serta hati yang menangis. Di tengah perjalanan, sebuah mobil dari arah berlawanan melaju dengan kecepatan angin pada jalan yang ada di hadapan Lia. Brakk…!! Lia terhempas ke pinggir jalan, darah segar mengucur dari seluruh tubuhnya, barang-barannya pun berserakan di sekitarnya. Seorang pria dengan menggunakan setelan jas hitam turun dari mobilnya, ia menghampiri Lia yang terkapar tak berdaya. Pria itu pun mengangkat tubuh serta barang-barang Lia menuju ke mobilnya. Pria itu pun memacu mobilnya dengan kecepatan kilat menuju ke rumah sakit terdekat.

-***-

Setibanya di sana, Lia pun segera ditindaki oleh dokter-dokter di  rumah sakit itu, nampaknya ia mesti dioperasi malam itu juga sebab ia mengalami pendarahan hebat dan kedua kakinya patah. Setelah pria itu menandatangani surat persetujuan tindak operasi tersebut, Lia pun dioperasi yang mungkin memakan waktu sekitar 4 jam. Sambil menunggu Lia yang tengah dioperasi, ia menghidupkan laptop milik Lia berharap dapat menemukan data identitas Lia. Sudah sejam ia mengutak-atik laptop itu, namun hasilnya nihil, usahanya sia-sia belaka. Namun ia menemukan sebuah folder yang bernama aku dan seluruh kenangan. Pria itu tercengang setelah membuka folder tersebut yang ternyata di dalamnya berisi puluhan tulisan-tulisan karya Lia. Seketika perhatiannya tertuju pada sebuah novel karya Lia yang berjudul My Life Story, ia pun segera membacanya. Beberapa jam kemudian, operasi pun telah selesai, namun Lia tengah mengalami koma. Setelah dipersilahkan oleh salah satu dokter, pria itu pun masuk untuk melihat kondisi Lia yang sangat memprihatinkan.

-***-

Telah sebulan Lia mengalami koma dan terbaring di rumah sakit, belum juga ada tanda-tanda bahwa Lia akan sadar, namun pria itu tetap setia menunggui Lia hingga akan sadar dari komanya.
“Bangunlah… aku menunggumu, kehadiranmu mengenalkanku pada cinta dan ketulusan, aku menyayangimu meski aku tak mengenalmu” bisiknya dengan lembut di kuping Lia. Seketika Lia terbangun dari komanya memecahkan keheningan ruangan tersebut. pria itu bersujud tanda syukur pada Sang Pencipta.
“Kamu siapa?” Tanya Lia yang menyadari akan kehadiran seseorang selain dirinya di ruangan tersebut. Pria itu pun memperkenalkan dirinya bahwa ia bernama Firman, tak lupa ia juga meminta maaf atas kecelakaan yang menimpa Lia tempo hari. Selain itu, Firman sempat memuji atas karya-karya Lia, dan ia menawarkan pada Lia untuk menerbitkan seluruh karya Lia sebab kebetulan ia adalah seorang penerbit. Lia tersenyum anggun, namun mendadak wajahnya berubah murung. Melihat hal itu, Firman pun menangkap bahwa Lia tengah memiliki sebuah masalah, ia pun menanyakan hal itu pada Lia dan menawarkan dirinya untuk menjadi pendengar sejati atas masalah yang tengah Lia hadapi saat ini. Sejenak Lia tertunduk, ia menitikkan air mata, ia pun menceritakan segala masalahnya. Setelah mendengar cerita dari Lia, Firman turut larut seakan dapat merasakan kesedihan Lia. Sebenarnya Firman telah mengetahui sebagian seluk-beluk kehidupan Lia dari novel My Life Story karya Lia, tapi ia hanya mengira cerita nobel itu hanyalah sebuah fiktif belaka. Kemudian mereka berdua pun terlibat dalam sebuah percakapan mengenai kehidupan mereka masing-masing. Setelah mengakhiri percakapan, Firman pun mengajak Lia untuk ikut bersamanya besok malam. Namun Lia menolak dengan alasan tak enak hati dan takut akan gunjingan dari tetangga Firman sebab ia tahu dari percakapan mereka tadi bahwa Firman  adalah orang terpandang di tengah warga sekitarnya apalagi orang tuanya telah tiada sehingga ia hanya tinggal berdua bersama seorang pembantunya. Namun Firman tetap bersikeras agar Lia bisa ikut bersamanya, ia menegaskan kepada Lia bahwa ia bukanlah orang jahat dan ia juga mengatakan bahwa ia akan menyiapkan sebuah kejutan buat Lia. Mendengar suara Firman yang memelas, Lia pun memilih untuk menyerah dan mengalah pada Firman seraya berusaha turun dari ranjang namun dicegah oleh Firman dengan mengatakan padanya bahwa ia tak bisa lagi berjalan dengan kedua kakinya itu. Lia yang telah mengetahui hal itu, hanya dapat menghela nafas panjang.

-***-

Pada esok harinya di rumah Firman, mereka disambut riuh dengan hangat oleh seluruh rekan-rekan Firman beserta anak buahnya, Lia tak menyangka akan hal itu sebab ia tak tahu apa-apa. Kemudian sejenak tiba-tiba seluruh orang yang ada di rumah itu mendadak terdiam terkecuali Firman yang ingin menyampaikan sesuatu kepada seluruh tamu, khususnya kepada Lia.
“Lia, selama aku menungguimu dalam komamu, selama itu pula aku makin tak ingin jauh darimu, aku ingin selalu menemanimu dalam sedih dan bahagiamu, hatimu sungguh cantik, dan aku telah mencintaimu dengan apa adanya, apa pun yang terjadi padamu aku tak peduli, aku merelakan diriku untukmu. Di hari berbahagia ini, di depan penghulu dan para saksi, maukah engkau menjadi pendamping dunia serta akhiratku? Aku mohon, jangan katakan tidak padaku karena hatiku akan terluka,” kata Firman dengan bersungguh-sungguh. Lia pun sesaat terdiam yang kemudian mengiyakan pernyataan dari Firman seraya tersenyum manis pada Firman. Seluruh orang yang hadir di tempat itu pun ikut terharu dan meneteskan air mata bahagia. Keduanya pun menikah dengan mahar 100 gram emas beserta seperangkat alat sholat, mereka pun sah menjadi sepasang suami istri. Ternyata Firman telah merencanakan dan mempersiapkan semua itu hanya dalam sehari.

-***-

Sang waktu pun terus bergulir, tanpa terasa telah 2 tahun mereka arungi bahtera rumah tangga bersama-sama dengan harmonis. Dengan sabar dan penuh tulus kasih sayang, Firman merawat Lia sang belahan jiwanya, ia tak pernah merasa jijik apalagi takut pada penyakit yang Lia miliki yang suatu saat bisa saja menular padanya, ia tak menghiraukan hal itu. Kondisi Lia saat ini pun berangsur telah membaik,. Namun seminggu belakangan ini, Lia merasakan ada sesuatu yang janggal, ia merasa ada seseorang yang selalu mengikutinya ke mana dan di mana pun, namun saat ia menanyakan hal itu kepada suami dan pembantunya, mereka hanya menjawab bahwa tak ada seorang pun di rumah itu selain mereka bertiga dan mereka meyakinkan pada Lia bahwa hal itu hanyalah perasaannya saja. Hingga tiba pada suatu malam, sesuatu yang ia rasakan itu terjadi. Pada malam itu, Lia dan Firman tengah asyik ngobrol membahas mengenai pameran buku yang akan diadakan oleh Firman yang di dalamnya hanyalah khusus untuk buku-buku karya Lia yang semuanya telah menjadi buku-buku terlaris di tengah publik saat ini. Karena keasyikan ngobrol hingga larut malam, Firman pun terlelap di samping Lia yang masih saja terjaga. Lia pun mengambil laptopnya yang ada tepat di atas sebuah meja kecil di samping ranjangnya, ia pun melanjutkan tulisannya yang telah hampir selesai, 2 jam kemudian novel itu pun telah selesai. Ketika Lia hendak tidur, seketika suara hatinya berbicara seakan menuntunnya agar ia segera mengambil air wudhu dan mendirikan sholat sebanyak dua raka’at. Ia pun mengikuti suara hatinya itu, dengan bersusah-payah ia pun berusaha menggapai kursi rodanya dan naik ke atasnya. Setelah mengambil air wudhu dari toilet yang ada di dalam kamarnya, ia pun sholat duduk di atas kursi rodanya itu. Setelah itu, ia pun kembali ke ranjangnya dan berbaring di atasnya. Sesosok gaib datang menghampirinya dan menyampaikan sesuatu kepada Lia. Lia yang begitu terkejut berusaha tenang, dengan lembut tanpa membangunkan suaminya itu, ia pun mengecup kening sang suami tercinta disertai air mata yang menetes dari kedua matanya. Kemudian ia mengambil telpon genggamnya itu dan menuliskan sebuah pesan yang ditujukan kepada nomor suaminya itu. Ia pun kembali berbaring di tempatnya, kedua tangannya ia tumpukkan di atas tubuhnya, dan dengan perlahan ia pun memejamkan mata seraya mengukir sebuah senyum bahagia di bibirnya.

-***-

Terdengar samar suara adzan dikumandangkan, Firman pun terbangun, ia memandang istrinya yang masih terbaring di sampingnya. Ia heran tak biasanya Lia masih tertidur jam segini, biasanya istrinyalah yang bangun terlebih dahulu untuk membangunkannya sholat subuh. Ia pun menepuk lengan Lia, namun Lia tak meresponnya, ia pun berpikir bahwa mungkin Lia sangat kecapaian, ia pun bangkit untuk mengerjakan sholat subuh. Seusai sholat, ia mengambil telpon genggamnya yang ada di saku celananya, ia pun menemukan sebuah pesan baru pada telponnya itu dan segera membacanya. Betapa terkejutnya ia membaca pesan itu, di pesan itu Lia menuliskan bahwa ia telah akan pergi untuk selamanya, dan ia berpesan agar novel terakhir yang ia buat yang berjudul Surat Untuk ibu diantarkan kepada ibunya. Selain itu, ia berpesan kepada Firman agar melanjutkan perjuangannya untuk mendirikan sebuah yayasan penyandang cacat untuk kalangan orang yang tak mampu di samping cita-citanya menjadi seorang penulis. Setelah membaca pesan itu, Firman segera merangkul Lia yang telah tak bernyawa lagi diiringi deraian air mata duka.

-***-

Setelah Lia dimakamkan, Firman segera menuju ke gedung pameran untuk meresmikan pameran tersebut sebab ia telah berjanji kepada Lia meski ia telah tiada. Beberapa jam kemudian, acara pameran itu pun berakhir. Ia pun menancapkan gas mobilnya menuju ke rumah ibu Lia. Setibanya di rumah itu, ia dibukakan pintu oleh ibu Lia dan mempersilahkan Firman untuk masuk ke dalam. Firman menolak dengan alasan terburu-buru, ia langsung memberi novel itu dan menyampaikan bahwa Lia baru saja berpulang ke rahmatullah, lalu beranjak meninggalkan rumah itu.

-***-

Karena penasaran dengan novel itu, ibu Lia pun segera membacanya. Setelah selesai membaca novel itu, ia segera berlari dari rumahnya dengan terbirit-birit bagai kesetanan, di sepanjang jalan ia tak henti-hentinya memanggil nama Lia disertai kata maaf berulang-ulang kali terlontar dari mulutnya. BRakk!!! Sebuah truk telah menabraknya, tubuhnya terlempar ke sebuah sungai yang arusnya begitu deras sehingga tubuh yang telah tak bernyawa lagi terbawa oleh arus sungai tersebut.

-***-

Sebulan kemudian, terdengar kabar bahwa mayat ibu Lia hingga kini belum ditemukan dan kakak Lia tengah di rawat di salah satu rumah sakit jiwa yang disebabkan frustasi karena tak sanggup lagi membiayai sekolah kedokterannya itu.  Pada alam yang berbeda, Lia beserta sang ayah tengah berbahagia di atas langit sana.