Hi Guys! welcome to my blog. enjoy all my literary work on here. This blog about all my writing.
Rabu, 21 Agustus 2013
Kunci Menembus Keterbatasaan
Tumor otak yang menjadi benalu di dalam otakku telah merebut penglihatanku. Semenjak aku mengalami ketunanetraan tepatnya pada tanggal 25 Juni 2007 silam yang di mana hari itu merupakan hari ulang tahunku yang ke 14, aku merasa telah kehilangan asaku di dunia ini. Meski aku telah ikhlas menerima cobaan itu dengan sabar, namun tetap saja aku berpikir bahwa apakah yang harus aku lakukan dalam ketunanetraanku? Cita-cita untuk menjadi seorang dokter pun perlahan terkikis oleh waktu yang terasa begitu lambat bagiku. Hobi membaca dan menulis yang kumiliki, tak dapat lagi kupenuhi. Apabila aku ingin mengetahuii isi dari sebuah buku, aku harus dibacakan oleh orang-orang di sekitarku. Begitu pula saat aku ingin menuangkan tulisan-tulisanku yang mengalir dari benakku, dengan terpaksa aku mesti meminta bantuan dari sahabat-sahabatku yang bersedia mengetikkan tulisan-tulisan tersebut. Selain itu, aku tak dapat lagi membaca ayat-ayat suci yang telah menjadi kewajibanku selama ini, kini yang dapat kulakukan yaitu sekedar mendengarkannya melalui sebuah kaset. Hingga tiba suatu waktu dimana mereka tengah sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing dan tak bisa membantuku sehingga hal itu membuat hatiku miris. Hati kecilku berkata bahwa ketunanetraanku telah membatasi langkahku. Dan terkadang aku merasa telah merepotkan orang n disekitarku. Dalam keterbatasanku itu, tak jarang aku mengambil sebuah pena dan secarik kertas kosong lalu menuliskan segala hal apapun termasuk menuliskan sebuah ayat suci . Meski tulisan tersebut dapat terbaca jelas oleh mereka layaknya tulisan seorang normal, namun tetap saja aku tak dapat membaca tulisanku sendiri. Aku yang merupakan seorang juara kelas di sekolahku dahulu, kini tak dapat berbuat apapun jua, semua telah tinggal menjadi sebuah kenangan.
Hingga pada suatu hari, aku dimasukkan ke salah satu SLB yang ada di kotaku. Di sana aku diajarkan menggunakan huruf Braille, akupun senang sebab dengan adanya huruf Braille, aku dapat menulis dan membaca lagi, meski awalnya agak sulit karena untuk menulis menggunakan huruf Braille sering membuat jariku kesakitan. Selain itu, aku diajarkan membaca al-quran Braille. Bukan hanya itu, aku juga diajarkan menggunakan beberapa alat elektronik seperti computer dan telepon selular yang telah diberi semacam alat bantu khusus bagi kaum tuna netra yaitu sebuah aplikasi yang telah diprogram untuk membacakan tulisan-tulisan yang tertera pada layar kedua alat elektronik tersebut. JAWS dan talks telah membantuku mengaplikasikan alat tersebut, bahkan aku telah bisa mengakses internet dengan mudah. Aku pun makin bahagia sebab satu persatu rutinitas yang dahulu tak dapat kulakukan dalam ketunaneteraanku, kini aku dapat mengerjakan segalanya sendiri tanpa merepotkan orang di sekitarku lagi. Ketika aku kembali ke lingkunganku yang dimana di tempat itu tak ada seorang pun tunanetra, tentu hal itu membuat mereka takjub dan tak percaya bahwa aku dapat melakukan apa yang mereka lakukan sebab selama ini pengetahuan mengenai tunanetra masih tabu sehingga mereka masih mengira tunanetra tak dapat berbuat apa-apa selain menjadi seorang pemijat. Melihat kemampuanku saat ini seketika mengundang perhatian dan menjadi buah bibir di tengah-tengah mereka. Lambat laun, perkiraan dan anggapan mereka mengenai tunanetra selama ini perlahan lenyap meski sebagian dari mereka masih ada yang memandang tunanetra dengan sebelah mata. Dan hal itu terulang saat aku mencoba memasuki sebuah Madrasah Aliyah Negeri yang dimana di sekolah tersebut bukanlah sekolah inklusi. Sang kepala sekolah dan sebagian guru menolak kehadiranku. Namun dengan dibantu oleh teman-teman senasib dan seperjuanganku aku, kami menunjukkan bahwa aku dapat mengikuti pelajaran di sekolah itu tanpa merepotkan mereka. Di hadapan mereka, aku memainkan jari-jemariku di atas sebuah laptop dengan lincahnya, dan ketika mereka memintaku untuk membacakan isi dari sebuah quran braille, aku menyanggupinya. Meski mereka telah menyaksikan dengan mata kepala mereka sendiri bahwa aku mampu, nampaknya mereka masih ragu sehingga pihak sekolah memutuskan untuk mengadakan uji coba selama sebulan padaku. Begitu pula dengan teman-teman sekolahku, mereka Nampak ragu akan kemampuanku melihat bahwa aku adalah seorang tunanetra. Beberapa guru yang masuk ke kelasku sempat bingung mengamati huruf-huruf Braille dan mendengaar suara-suara berisik yang ditimbulkan oleh laptopku.
Telah sebulan kujalani uji coba itu dengan baik, pihak sekolah pun memutuskan bahwa aku diterima di sekolah itu, bahkan aku diberi beasiswa yaitu dengan membebaskanku dari uang iuran perbulan hingga aku tamat dari sekolah tersebut. guru-guru dan teman-temanku akhirnya telah dapat menerima kehadiranku dan mereka kagum akan prestasi yang telah kuukir dengan penuh perjuangan. Walau aku kini telah menjadi seorang tunanetra, aku tak jauh berbeda dengan mereka, yang membedakan antara aku dan mereka hanyalah segi penglihatan. Bahkan terkadang mereka memintaku untuk mengajari mereka mengenai beberapa pelajaran yang dapat aku kuasai.
Namun pada suatu hari, guru kimia yang mengajariku agak ragu ketika melihat hasil ujianku bahwa nilaiku berada di atas nilai standar. Padahal siswa yang ada di kelasku hamper seluruhnya memeiliki nilai di bawah standar sehingga mereka harus mengikuti pengulangan kecuali lima siswa termasuk aku. Sang guru pun mencurigai bahwa aku dibantu oleh sahabatku yang terkenal pandai dalam bidang pelajaran itu. Aku yang merasa tak melakukan hal itu spontan membantah kecurigaannya tersebut. Aku pun menjelaskan mengenai jawaban yang kumiliki dengan membacakan rumus yang kugunakan beserta hasil perhitungan yang kubuat dengan menggunakan angka dan huruf braille. Setelah mendengar penjelasanku, beliau pun paham akam kemampuanku.
Nah, itulah sekilas mengenai kisahku. Manfaat dari huruf-huruf Braille beserta alat-alat mobilitas sangat terasa dan berpengaruh dalam kehidupanku saat ini. Dengan adanya media tersebut sebagai kunci bagi para kaum tunanetra untuk menembus keterbatasan mereka, kini tak mustahil bagi kaum tunanetra dapat menggapai dan menaklukkan dunia. Wahai para mereka yang masih saja menyelepehkan ketunanetraan kami, lihatlah kami ini yang akan membuktikan kepada dunia bahwa kami dapat berhasil seperti mereka. Meski kami dalam gulita, kami memiliki secercah cahaya untuk menyongsong masa depan yang cerah. Dan aku tak akan pernah berhenti berharap bahwa semoga kelak aku dapat menjadi seorang penulis sejati. Dan mungkin tulisanku ini sangatlah sederhana namun merupakan sebuah curahan hatiku yang terpendam selama ini.
Penulis:
Risya Rizky Nurul Qur’ani
Arti peran Papa dan Mama dalam menaklukkan keterbatasanku
Aku terlahir di dunia ini dengan sempurna tanpa cacat sedikit pun. Namun ketika aku memasuki usia remaja, aku mengidap tumor otak dan hingga akhirnya tepat pada tanggal 25 Juni 2007 silam yang saat itu aku tepat menginjak usia 14 tahun, penyakit tersebut memaksa kelamkan penglihatanku. Melihat kondisiku yang begitu memprihatinkan, orang tuaku melarikanku ke rumah sakit untuk dioperasi. Hasil operasi tersebut berhasil dan kondisiku pun berangsur membaik terkecuali penglihatanku yang hingga kini kondisinya tetap sama, kedua mata ini tak dapat lagi berfungsi, yah… sekedar menjadi hiasan yang terpajang indah di wajahku. Hari demi hari kujalani tanpa cahaya penglihatan, aku merasa kesulitan dalam menjalani kehidupan baruku ini yang serba terbatas dan bergantung pada orang lain. Walau begitu, aku sangat bersyukur memiliki orang tua yang sangat peduli akan kondisiku yang membutuhkan perhatian ekstra dari sebelumnya dan mereka tak pernah membedakanku dengan saudara-saudaraku yang lain. Dengan tegas, mereka selalu membimbingku agar aku dapat mandiri. Akan tetapi mereka selalu saja memerintahkanku untuk dapat melakukan dan mengerjakan tugas-tugas rumah tanpa dibantu oleh siapa pun, bahkan semua tugas itu lebih sering dibebankan kepadaku ketimbang saudara-saudaraku yang lain. Aku pun sempat berprasangka buruk kepada mereka bahwa aku tak disayang lagi oleh keduanya. Dan ternyata mereka dapat menangkap yang tersirat dalam sikapku yang mendadak berubah. Suatu seketika, mereka memanggilku dan menyampaikan sesuatu kepadaku yang hingga saat ini aku tak pernah lupa oleh perkataan mereka,
:Anakku, maafkanlah akan perlakuan kami sehingga membuat hatimu terluka, tapi kamu harus tahu mengapa kami memperlakukanmu seperti ini. Tahukah kamu? suatu saat tak selamanya kami akan selalu ada buatmu, jika kami kelak telah tiada di dunia ini, kamu harus melanjutkan hidupmu tanpa kami di sisimu terkecuali Allah, sandarkanlah segala masalahmu kepada-Nya sebab hanya Dialah sebaik-baik tempat bersandar dan kamu harus mengandalkan Allah dalam kehidupanmu. Itulah tujuan kami mendidikmu seperti ini dan kami ingin kamu bisa menjadi wanita yang kuat, tegar, dan tahan mental akan omongan masyarakat akan kecacatanmu,” aku terpana mendengarnya, seketika aku memeluk keduanya, menyadari bahwa merekalah yang paling menyayangiku di dunia ini dan selalu memikirkan akan masa depanku kelak. Berkat didikan mereka itulah aku telah dapat mandiri dalam mengerjakan tugas rumah sebagai anak yang harus membantu orang tua.
2 tahun kemudian, setelah sekian lama mengganggur di rumah, mereka memasukkanku di salah satu SLB. Di sana aku diasramakan sehingga aku makin mandiri, keduanya sangat senang akan kemajuanku. Dan pada suatu hari, aku ditunjuk untuk mewakili sekolahku dalam lomba cipta baca tulis puisi, aku memutuskan untuk membuat puisi mengenai asaku untuk membahagiakan orang tuaku dan ternyata aku menang sehingga aku mewakili provinsiku untuk tahap lomba selanjutnya yaitu seIndonesia. Tak lupa aku mengucapkan terima kasih kepada keduanya dan mengajak mereka untuk ikut bersamaku ke kota Surabaya tempat lomba selanjutnya diadakan. Mereka tak berkomentar sedikit pun, hanya air mata haru yang menyiratkan akan kebahagiaan mereka saat itu.
Tak terasa setahun sudah kutempuh pendidikan di SLB tersebut, namun sayangnya penyakitku kambuh dan kembali menyerangku, dengan terpaksa aku harus pulang ke rumah dan beristirahat hingga akhirnya aku harus dioperasi lagi untuk kedua kalinya. Meski aku telah dioperasi, dokter melarangku untuk kembali bersekolah sebab takut penyakitku kambuh dan aku dilarang untuk banyak berpikir. Beberapa bulan kemudian, tak terasa Ujian Akhir Nasional telah dekat, menyadari hal tersebut aku pun mulai gelisah sebab penyakitku ini kambuh ketika aku naik ke kelas 3 sehingga hamper setahun aku tak mengikuti proses belajar. Aku pun terus saja membujuk orang tuaku agar mengizinkanku untuk dapat kembali bersekolah selama sebulan lebih sebagai persiapan untuk mengikuti ujian nanti. Dengan berat hati, akhirnya mereka mengizinkanku tetapi aku tak dapat lagi tinggal di asrama seperti dulu sebab kesehatanku harus selalu dipantau oleh keduanya. Rumah dan sekolahku sangat terpaut jauh dan memakan waktu sejam untuk tiba di sekolah dan Papakulah yang selalu bolak-balik untuk mengantarkanku setiap harinya tanpa mengenal lelah.
Ujian pun tiba, dengan berbekal usaha belajar sebulan dan doa, aku telah siap. Singkat cerita, hasil ujian pun telah keluar dan aku bersyukur sebab aku lulus dan nilaiku berada di peringkat kedua di sekolahku tersebut. tak lupa aku bersujud syukur dan berterima kasih atas doa kedua orang tuaku sehingga aku dapat lulus. Setelah itu, aku berniat untuk melanjutkan pendidikanku ke tingkat Sekolah Menengah Atas akan tetapi mereka tak memperbolehkanku dengan alasan menimbang akan kesehatanku dan segala resiko yang dapat saja terjadi kapan pun. Namun aku tetap bersikeras dengan niatku tersebut bahkan aku menangis sejadi-jadinya. Tak tega melihatku seperti itu, dengan berat hati mereka merelakanku untuk kembali bersekolah tapi bedanya kali ini aku akan bersekolah di SMA umum yang terletak tak jauh dari kompleksku yang dimana di sekolah itu tak pernah sebelumnya dimasuki oleh kaum tunanetra. Aku pun sempat ditolak dan orang tuaku disarankan agar mencari sekolah lain yang tepat untuk orang sepertiku. Mendengar ucapan yang dilontarkan oleh salah satu pihak sekolah tersebut, hatiku bagai tersayat sedangkan orang tuaku sangat bersedih melihatku diperlakikan tak adil seperti ini. Papaku pun bersuara dan berusaha menjelaskan bahwa aku mampu dan berhak menempuh pendidikan di sekolah tersebut. bahkan kedua orang tuaku mengerahkan dan melakukan seluruh cara agar aku dapat diterima di sekolah itu. Keduanya pun menghubungi senior-seniorku yang senasib denganku yang kini telah berhasil memasuki universitas yang ada di kotaku agar mereka dapat menjelaskan bukti-bukti kepada pihak sekolah tersebut bahwa tunanetra sepertiku berhak dan dapat sukses seperti mereka yang memiliki fisik sempurna. Akhirnya aku diterima oleh pihak sekolah tetapi dengan syarat aku harus mengikuti uji coba selama sebulan. Jika aku berhasil melewati uji coba itu dengan baik, aku dapat melanjutkan pendidikanku di sekolah itu dan bila aku tak berhasil, aku harus meninggalkan sekolah tersebut. untuk membantu kelangsunganan proses belajar mengajar di sekolah, orang tuaku memberikanku fasilitas sebuah laptop yang telah dipasangkan sebuah aplikasi yang akan membaca seluruh tulisan-tulisan yang tertera pada layar monitor laptop tersebut. bukan hanya itu, mereka membeli beberapa buku pelajaran yang digunakan untuk mempelajari beraneka mata pelajaran yang ada di sekolahku. Dan juga dibantu oleh alat scanner, aku dapat membaca isi dari buku-buku tersebut dan apabila hasil scan itu itu kurang jelas, dengan senang hati orang tuaku membacakan isi buku tersebut dan aku yang terkadang kurang paham akan pelajaranku, mereka selalu membimbingku juga mengajariku hingga aku dapat mengerti akan pelajaranku.
Hingga suatu ketika penyakitku kambuh lagi dan aku tak biperbolehkan untuk kembali bersekolah. Aku hanya menurut saja menyadari keegoanku yang ditimbulkan oleh diriku sendiri. Namun orang tuaku tak menyurutkan dan mematahkan semangatku untuk menggapai segala impianku dan menyarankanku untuk mengembangkan potensi bakat menulis yang kumiliki yang bisa saja akan mengantarkanku pada gerbang kesuksesan. Dengan senang hati, aku menyambut gagasan tersebut sehingga saat ini aku tak pernah berhenti untuk menulis, melahirkan beberapa karya dan mengikutsertakannya pada beberapa lomba menulis yang diadakan beberapa oleh berbagai pihak.
Terima kasih Papa.. Mama… arti peran kalian sangat besar dalam menaklukkan keterbatasanku ini dan aku sangat bersyukur memiliki orang tua seperti mereka dibanding orang tua dari salah satu murid di SLbku yang memiliki netra dan mental yang cacat namun tak dipedulikan oleh orang tuanya. Padahal semestinya mereka yang telah melahirkannya harus mengerti akan kebutuhan khusus yang tepat dan bermanfaat buatnya dalam menaklukkan keterbatasan dan menggapai masa depan yang cerah. Selain itu, aku sangat berharp besar kepada seluruh masyarakat agar peduli akan kehadiran kami yang berkebutuhan khusus yang juga ingin meraih kesuksesan seperti mereka yang sempurna.
Penulis:
Risya Rizky Nurul Qur’ani
Bukan maksud Ayah
Langit malam di luar sana Nampak indah. Sang Bulan kali ini tak segan-segannya berbagi cahaya untuk menerangi langit kota. Seakan tak ingin kalah dengan sang Bulan, para pasukan bintang saling beradu untuk memancarkan sinarnya yang berkilauan anggun hingga tak heran berjuta orang terpana dan takjub akan keindahannya. Namun sayangnya kepulan asap yang ditimbulkan oleh kendaraan yang memenuhi jalan telah merusak keindahan pemandangan malam hari ini. Seiring waktu yang terus berdetik, akhirnya satu persatu kendaraan yang ada di jalan depan rumah nenek mulai berkurang hingga perlahan jalanan itu telah Nampak sepi. Dan tak terasa malam telah makin larut. Walau demikian, aku tak dapat memejamkan kedua mata ini. Rasa senang, resah, dan gelisah menyerbu berbaur tak menentu melanda hatiku. Seluruh pikiranku seolah terbang melayang. Bagaimana tidak?! Sang Ibunda yang tercinta telah memasuki bulan kesembilan yang berarti tak lama lagi aku akan resmi menjadi seorang kakak. Dan malam ini, Ibu beserta Ayah, Nenek, dan bibi akan berangkat menuju ke rumah bersalin sebab Ibu tak dapat lagi menahan rasa sakit di perutnya. Menyaksikan hal tersebut, aku segera bangkit kemudian menghampiri Ayah yang telah siap sedari tadi.
“Aku ikut ya…,” bujukku pada Ayah.
“Tak usah ya, Nak! Kamu nyusul aja entar dengan yang lain ya… entar kalau adik kamu sudah berhasil dikeluarkan dari perut Ibu, barulah kamu dan yang lainnya nyusul ke rumah bersalin,” jelas Ayah. Aku pun hanya dapat pasrah dan mengindahkan kata-kata Ayah meski sebenarnya aku sempat kecewa dengan jawaban dari Ayah. Dengan raut wajah yang masih cemberut, aku berjalan tepat di samping Ibu hingga beliau memasuki mobil. Mobil yang membawa Ibu pun melaju, kupandangi mobil tersebut hingga akhirnya mobil itu telah hilang dari pandanganku.
“Masuk ke dalam rumah, Nak! Udara malam nggak baik untuk kesehatanmu, entar sakit loh!” seru Bibi menyuruhku agar masuk ke dalam rumah. Aku pun bergegas memasuki rumah dengan setengah berlari-lari kecil.
-***-
“Mengapa sih Ayah tak memperbolehkanku untuk ikut bersama Ibu? Aku kan pengen ikut!” gerutuku dalam hati seraya berbaring di atas tempat tidur Nenek. Meski aku telah berguling kesana-kemari di atas tempat tidur, tetap saja aku tak bisa tidur. Kupaksakan pejamkan kedua mataku agar aku dapat tidur, tapi yang ada mataku makin melek saja. Kini di hadapanku baying-bayang Ibu yang tengah merintih terus saja menari-nari seolah menghantuiku.
“Loh kok belum tidur sih? Kirain kamu sudah tidur! Eh tahunya kamu ngelamun saja, tidur, gih! Besik kan kita berangkat ke rumah bersalinnya pagi-pagi! Kalau kamu telat bangunnya, entar kamu ditinggal loh!” ujar Bibi yang tiba-tiba masuk ke kamar sehingga membuyarkan baying-bayang Ibu yang ada di hadapanku. Setelah mendengar perkataan dari Bibi, aku jadi takut sehingga hal tersebut membuatku dengan mudahnya tertidur.
-***-
Di sisi lain dan tempat yang berbeda, Ibu tengah berjuang untuk dapat melahirkan buah hati tercinta dengan mengerahkan seluruh tenaganya. Namun hingga saat ini sang bayi belum juga dapat berhasil dikeluarkan. Para dokter dan perawat turut bingung dan heran sebab kepala dari sang bayi telah berada tepat di pintu tetapi tak dapat dikeluarkan seakan ada sesuatu yang menahan dan menghalangi bayi tersebut untuk keluar. Wajah Ibu pun telah merah padam menahan sakit dan perih yang amat sangat.
“Berkuat lagi ya, Bu… Kepala bayinya sudah ada di depan pintu! Ayo coba tarik napasnya lagi,” ujar Dokter berusaha memandu Ibu.
Menyaksikan kesakitan dari sang istri tercinta, Ayah pun turut panic dan heran sebab ketika melahirkanku untuk pertama kalinya proses persalinan begitu mudah mengingat Ibu adalah seorang wanita yang sholeh dan taat pada kedua orang tua, tapi kali ini sangat jauh berbeda dari sebelumnya.
“Ya Allah… ada apa dengan istriku? Mengapa ia sangat kesulitan dalam melahirkan anak keduaku ini? Bukankah sebelumnya ia sangat mudah dalam melahirkan anak pertama kami? Dan bukankah pula istriku ini adalah wanita yang taat padaMu, taat padaku, dan juga taat pada kedua orang tua?! Ya Allah… berilah kemudahan kepada istriku dalam proses persalinannya,” ujar Ayah dalam hati yang terus saja bertanya-tanya dan tak hentinya terus berdoa pada Sang Maha Penyayang, hingga seketika Ayah mengingat sesuatu hal yang mendadak membuat wajah Ayah memucat. Bagai menembus waktu, ingatannya pun tiba pada peristiwa 5 tahun silam…
-***-
Ria adalah seorang Ibu muda. Walau demikian, ia sangat piawai dan cekatan mengurus rumah tangganya. Dalam usia yang masih belia, ia terpaksa mengakhiri sekolahnya dan menikah dengan seorang pria yang berumur terpaut jauh dari usianya saat itu bahkan ia sama sekali tak mengenalnya. Namun karena pria itu merupakan seorang agamis, Ibunya pun jatuh hati akan kealiman dan budipekerti yang dimiliki oleh pria itu. Tanpa terasa setahun lebih mereka arungi bahtera rumah tangga dan kini mereka telah memiliki seorang putrid. Tanggung jawab mereka pun bertambah terutama sang istri yang harus selalu memantau sang putrid beserta rumah tangga ketika sang suami tengah keluar mencari nafkah.
“Kasihan istriku, dalam usia yang terhitung begitu masih muda, ia telah harus mengurusi suami, anak, serta rumah tangga sendirian, Ya Allah aku hanya ingin memiliki seorang anak saja agar seluruh perhatian dan kasih sayangku cukuplah untuk keduanya saja,” pintanya dalam hati. tanpa sepengetahuannya, rupanya Allah sang Maha Mendengar, mengetahui dan mendengar dan para malaikat mencatat dan mengaminkan perkataan dari hati kecil sang suami yang sholeh itu.
-***-
“Wah bagaimana nih, Pak? Anak bapak sangat sulit untuk dikeluarkan!” Tanya dokter yang seketika membuyarkan lamunan Ayah. Ayah tak menjawab, dibiarkannya peranyaan itu menggantung dan seketika mendekati sang istri yang telah Nampak terkulai lemah di hadapannya. Dengan pandangan lembut, Ayah mengarahkan pandangannya menuju kea rah kepala sang bayi seraya terus beristighfar di dalam hati.
“Maafkan Ayah, Nak… dahulu Ayah pernah berkata bahwa Ayah hanya ingin memiliki seorang anak saja namun Ayah tak bermaksud tak menginginkan kehadiranmu di kehidupan Ayah, sekali lagi Ayah meminta maaf kepadamu, sekarang Ayah mohon keluarlah engkau, Nak!” ucap Ayah lirih diiringi deraian air mata. Setelah Ayah berkata demikian, seketika sang bayi tersebut pun keluar dan meluncur dari tempatnya dengan mudahnya hanya dalam hitungan detik.
“OOOOeekkk… OOOeeekkk…,” tangisan merdu sang bayi itu telah memecahkan rasa kepanikan yang menerpa orang di sekitarnya. Rasa sakit dan perih yang tadi dirasakan oleh Ibu, mendadak lenyap tanpa menyisakan rasa sakit sedikit pun seiring terlahirnya sang buah hati. ayah pun mengambil sang bayi tersebut dari tangan sang dokter lalu menimangnya dengan penuh kasih saying.
“Allahu Akbar Allahu Akbar… Allahu Akbar Allahu Akbar…” Ayah mengumandangkan adzan pada telinga sebelah kanan sang bayi sesuai sunnah Rasulullah. Setelah selesai mengumandangkan adzan, Ayah juga mengumandangkan iqomat pada telinga sebelah kiri sang bayi.
“Allahu Akbar Allahu Akbar… Asyhaduanlaa ilaaha illallaah…” air mata Ayah pun makin berderai dan tak dapat terkendali lagi.
-***-
“Bangun, Nak! Buruan bangunnya, kita akan ke rumah bersalin secepatnya, adik kamu udah lahir! Dan Alhamdulillah adikmu itu laki-laki loh!” ujar Bibi berusaha membangunkanku. Setelah mendengar dan mengetahui hal tersebut, aku yang masih memasang wajah yang ngantuk, mendadak mataku melek dan terbelalak.
“Apa?!!! Adikku sudah lahir?! Yes yes yes!!! Asyik aku punya adik baru!” sorakku kegirangan seraya seketika turun dari tempat tidur dan berjingkrak-jingkrak kesana-sini. Saking senangnya aku pun buru-buru mandi dan segera berpakaian.
“Waduh pakai baju yang mana ya? Aku jadi bingung! Tak ada Ibu disini sih! Mmm… yang ini aja deh,” ujarku seraya mengeluarkan salah satu baju dari tas besar milik Ibu yang berisi baju-baju Ayah, Ibu, dan juga baju-bajuku sebab kami telah seminggu nginap di rumah nenek.
“Kamu sudah selesai belum? Buruan ya..” Tanya Bibi memastikan.
“Aku sudah siap, Bi! Yuk kita pergi!” jawabku mantap.
“Kalau gitu, yuk kita turun ke bawah, kita sarapan dulu,” ujarnya seraya merapikan rambutku yang tak sempat kurapikan sebbab aku tak menemukan sisir di kamar nenek. Setibanya di bawah, aku dan sanak keluargaku sarapan bersama lalu kemudian berangkat menuju ke rumah bersalin dengan menumpangi sebuah mobil.
-***-
“Ibu…!” panggilku kegirangan.
“Eh saying.. kamu sudah datang!?” ujar Ibu seraya tersenyum manis kepadaku.
“Ibu baik-baik aja kan? Oh ya, adikku mana? Aku tak sabar pengen melihatnya!” tanyaku seraya memeluk Ibu.
“Sabar dong saying, adikmu lagi dimandiin sama perawat,” jawab Ibu dengan suara lembut.
“Aku jadi penasaran Nih, Bu! Bagaimana sih tampang adikku itu?” tanyaku.
“Mmm… gimana ya?! Wajahnya lucu, rambutnya agak keriting, dan badannya gede! Bagaimana?! Kamu sudah bisa membayangkannya kan?” jawab Ibu dengan semangat.
Tok..tok..tok… terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar. Aku pun bergegas menuju ke pintu dan dengan sigap membukanya. Setelah membuka pintu tersebut, kini di hadapanku berdiri seorang perawat yang tengah menimang seorang bayi yang berciri-cirikan sesuai dengan cerita dan gambaran dari Ibu barusan. Dan sangat amat yakin bahwa bayi yang ditimang oleh perawat itu adalah adikku.
“Selamat pagi, nih bayinya sudah dimandiin,” ujar sang perawat tersebut namun ia tetap tak beranjak dari tempatnya tengah berdiri.
“Wah sudah dimandiin ya, Sus… silahkan masuk… saying, minggir dong, Nak! Perawatnya kan tak bisa masuk kalau kamu tetap berdiri di situ?! Beri jalan gih! Buat perawatnya,” seru Ibu.
“Ternyata benar kan?! Bayi itu adalah adikku! Wah adikku sangat menggemaskan!” gumamku dalam hati. aku pun berlari menuju kea rah Ibu dan sang perawat tersebut masuk kemudian meletakkan sang bayi itu tepat di samping Ibu.
“Wah… terima kasih ya, Sus, sudah memandikan bayi saya,” ujar Ibu kepada sang perawat tersebut.
“Uhg.. aku jadi gemes!! Lucunya adikku ini!” celotehku seraya mengecup kening adik kecilku.
“Eh tahu nggak sih kamu?! Sekrang kamu tak disayang lagi tuh sama Ayah dan Ibu kamu soalnya mereka sekarang lebih saying sama adik kecilmu itu,” celetuk Bibi menggodaku. Mendengar perkataan tersebut, spontan aku mengerinyitkan keningku lalu memandang ke arah Ayah dan Ibu.
“Tenang saja, tentulah Ayah dan Ibu masih menyayangimu dan rasa saying kami kepada kamu dan adikmu sama rata kok! Kami tak akan membeda-bedakannya, jangan didengar kata Bibimu itu, dia cumin bercanda kok!” ujar Ayah seraya mengelus-ngelus kepalaku. Setelah mendengar penuturan dari Ayah, aku merasa lega walaupun aku sempat melototin Bibi yang tadi telah sempat menggodaku agar aku merasa cemburu dan kesal. Menyaksikan hal tersebut, seluruh orang yang ada di kamar itu pun tertawa terbahak-bahak.
Hikmah:
Sebagaimana yang kita ketahui selama ini, perkataan adalah doa. Maka dari itu, janganlah berkata yang tidak-tidak yang dapat menimbulkan mudhorat buat diri sendiri ataupun orang lain di sekitar kita. Dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar walau perkataan itu hanya terlontarkan di hati. selain itu, de sekitar kita ada beberapa malaikat di tengah-tengah kita yang senantiasa mencatat segala perkataan kita dan biasanya mengaminkan perkataan dari manusia. Dan terkadang kita sebagai manusia biasa yang tak luput dengan sifat lupa, seringkali kita telah lupa akan perkataan kita sehingga dari perkataan kita pula sangat berpengaruh akan hari ke depan. Maka sekali lagi jagalah perkataanmu walau perkataan itu di dalam hati.
Penulis:
Risya Rizky Nurul Qur’ani
Selimut dukaku dalam lebaran 2012
“Jangan pulang dulu dong, Bu! Bulan ramadhan tak lama lagi, tinggallah di sini hingga lebaran nanti” bujukku manja pada nenek yang akrab dipanggil dengan Ibu dalam keluarga besarku.
“Tidak, Nak, Ibu harus pulang apalagi Ibu sakit-sakitan,” tolaknya halus sambil bersiap keluar rumah.
“Aku dan Mami kan bisa rawat Ibu juga kok! Bukan hanya tante Nelly yang bisa,” protesku. Air mataku meleleh. Dadaku pun terasa sesak oleh kepulangan Ibu.
“Kalau begitu, aku ikut ya!” rengekku.
“Tak usahlah, Nak! Bukankah kamu bertugas sebagai bendahara dalam organisasi remaja mesjid kamu, jadi kamu sangat dibutuhkan,”
Sejenak aku terdiam, lalu beranjak masuk ke kamarku. Ibu telah keluar rumah dengan dipapah oleh Om Rizal. Aku tetap di kamar, aku tak ikut mengantarkan Ibu hingga masuk ke mobil.
***
“Tak terasa ya, lebaran tak lama lagi ! Oh ya, Mam, kita jadi ke Palopo tidak?!” tanyaku pada Mami seraya mencoba baju baruku untuk lebaran nanti.
“Rencananya kita akan ke Palopo setelah lebaran sebab pernikahan Tante Astuti juga akan dilangsungkan setelah lebaran. Maka sebaiknya kita menghadiri pernikahan tante kamu dulu baru kita ke Palopo agar kita sekali jalan saja. Untuk ke Palopo, mobil yang akan kita tumpangi akan melewati kota Pinrang! Tetapi..” kalimat Mami terhenti.
“Tetapi apa ?”
“Barusan Tante Nelly menelpon Mami. Katanya perilaku Ibu akhir-akhir ini agak aneh dan beda dari selama ini. Ibu selalu diam dan saat ini Ibu mendadak tak dapat berjalan. Mami beserta tante dan semua Om kamu sangat cemas dan khawatir dengan keadaan Ibu. Jadi, mungkin kita akan ke Palopo dalam dekat ini dan kita akan lebaran di sana. Sekarang Mami lagi tunggu telpon dari Tante Nelly nih!” suara Mami terdengar parau. Andai saja aku dapat melihat seperti yang dahulu, mungkin aku akan menemukan mata Mami yang sedang berkaca-kaca. Aku segera mencopot baju baruku lalu mengembalikannya ke dalam lemari. Kriingg…Kriing… handphone Mami bordering. Mami segera beranjak keluar dari kamarku lalu menuju ke ruang keluarga tempat tadi Mami meletakkan handphonenya. Aku yang merasa ngantuk segera membaringkan diri di atas tempat tidur.
“Nurul bangun, Nak! Ayo doakan Ibu! Ibu gawat!!” panik Mami yang berusaha membangunkanku. Aku terbangun lalu duduk berusaha menenangkan hatiku.
“Kenapa Ibu tidak dibawa ke rumah sakit saja sih?!!”
“Percuma saja, Nak!” jawab Mami yang terus mondar-mandir tak menentu dengan handphone yang ia pegang erat di tangannya. Aku yang mengerti dengan kondisi saat ini tanpa dikomando lagi, aku segera mengambil beberapa lembar pakaianku lalu memasukkannya ke dalam tas. Kembali terdengar deringan handphone Mami, dan samar-samar Nampak Mami tengah serius berbicara kepada orang yang ada di seberang telpon. Aku mulai kasak-kusuk sehingga aku tak lagi memperhatikan pakaian-pakaian yang aku masukkan ke dalam tas.
“Kenapa, Dik? Kenapa dengan Ibu?! Apa??! Katakan saja, Dik! Hah.. Ibu telah tiada!! Huuu…” terdengar jerit tangis Mami. Aku pun sadar bahwa Ibu telah pergi untuk selamanya meski aku belum dapat percaya seutuhnya bahwa Ibu telah tiada. Aku terisak. Air mataku tak dapat lagi kubendung. Mami menghampiriku lalu memelukku dengan erat. Kedua hati kami terasa pedih luar biasa. Setelah itu, Mami bergegas keluar dari rumah lalu menuju ke mesjid yang terletak tepat di samping rumahku untuk menyampaikan berita duka itu kepada Papi yang tengah melaksanakan ittikaf di mesjid itu. Dalam kegelapan, Mami berusaha mencari Papi sebab saat itu keadaan tengah mati lampu. Setelah berhasil menemukan Papiku, Mami menyampaikan berita itu kepada Papi. Air mata pun jatuh dari pelupuk mata Papi.
***
“Ibu…Ibu…” tangisku pecah di hadapan mayat Ibu. Kurangkul tubuh Ibu lalu menciumi keningnya dengan penuh perasaan. Sebenarnya tubuhku terasa amat lemas bahkan aku nyaris pingsan akan tetapi aku berusaha menguatkan diriku agar dapat ikut memandikan mayat Ibu lalu juga ikut menyolatinya dan kemudian ikut mengantarkan jenazah Ibu hingga ke pemakaman.
***
Allahu Akbar… Allahu Akbar.. takbir terus berkumandang dari mesjid kecil yang terletak tak jauh dari rumah Tante Nelly. Omelan Mami memenuhi kupinku sebab aku telat sholat subuh. Seluruh sepupuku telah siap untuk ke mesjid.
“Buruan!! Entar kita tak dapat tempat lagi! Mandinya jangan lama-lama ya!” ala bisa karena biasa, pepatah itu ditujukan padaku. Di saat yang bersamaan, aku telah selesai mandi dan hujan mendadak turun dengan derasnya. Dan dua sepupuku juga membertahu bahwa tempat di dalam mesjid telah penuh. Aku pun menjadi sasaran omelan dari sepupu, tante dan mamiku.
“Kak Nurul sih Lelet!” gerutu sepupuku. Terpaksa kami melaksanakan sholat ied di dalam rumah saja yang dipimpin oleh Mamiku. Sebelum itu kami bertakbir. Setelah sholat ied telah selesai kami kerjakan, layaknya sholat ied di mesjid, Mami member ceramah kepada kami semua. Hujan pun mulai reda. Terdengar suara Imam mesjid yang baru saja memulai shalat ied. Rupanya aku dan keluargaku mengerjakan sholat ied lebih dahulu !!
Penulis:
Risya Rizky Nurul Qur’ani
Langganan:
Postingan (Atom)